Arsip Blog

Rabu, 21 September 2022

Mentalku Sudah Sehat

Sungguh capek dengan perasaan sendiri.
Bahagia dan kedamaian yang hadir dalam hidupku harus dengan sebab. Sedangkan marah dan sedih serta semua perasaan negatif, bisa datang tanpa alasan. Tidak adil.

Bahkan, saat lagi bahagia tak jarang rasa sedih, marah, iri, dengki itu menghampiri. 
Bodohnya, aku diam-diam memelihara perasaan itu. Aku menikmati kesedihan dan meratapi hal hal yang menyakitkan.

Pintarnya aku yang selalu ceria dihadapan orang lain. Seolah hidup ini indah dan baik-baik saja. Aku selalu nyambung saat bicara dengan banyak orang. Disamping pekerjaanku yang menggunakan kemampuan untuk banyak bicara. Seringnya, banyak orang yang curhat masalah pribadi mereka. Kisah temanku yang suaminya impoten, kisah temanku yang suaminya selingkuh, kisah temanku yang ribut terus sama orang tuanya, kisah temanku yang ekonominya ada dibawah garis kemiskinan, kisah temanku yang banyak hutang, dll

Aku suka mendengarkan orang lain bercerita tentang kesulitan-kesulitan hidup mereka. Bukan, bukan karena aku jahat. Bukan karena aku bahagia melihat mereka kesusahan. Melainkan agar aku merasa Allah masih lebih sayang kepadaku. Mentalku bisa jadi kuat dengan mendengarkan kesengsaraan orang lain. Sehingga pastinya rasa syukurku pada Allah akan bertambah.

Ya, kalian tidak salah baca. Allah. Aku adalah muslim yang Alhamdulillah tidak pernah ketinggalan sholat. Bahkan aku seorang guru pengajar Al-Qur'an. Aku selalu menguatkan orang yang bercerita dengan firmanNya. Sekaligus menasihati diri sendiri.

Itulah kehebatan iman dan Al-Qur'an. Selemah-lemahnya iman kita, jika masih berinteraksi dengan Allah, kita masih bisa hidup bersama cobaan. Meskipun kualitas hidup kita tidak terlalu bagus sebagai hamba Allah. Minimal kuat menjalani cobaan dan tidak bunuh diri.

*****

Mentalku sakit. Yang sangat sakit, adalah sejak 8 tahun usia pernikahan, dan 4 tahun lalu aku sudah melakukan operasi tumor rahim (miomektomi), 
Dihari itu, September 2021 aku ingin serius progam hamil. Usiaku saat itu 35 tahun.

Hasil screening dokter menganalisa bahwa miom di rahimku berjumlah banyak, cukup besar dan sudah saling menempel. Sayangnya sudah tidak bisa di operasi untuk ke 2 kalinya karena akan merusak rahim. Bahkan dokter bilang, khawatir dengan ginjal aku. Karena ukuran musik itu lumayan besar dan ada diatas ginjal. Rahimku sudah melebar sebanyak 6cm karenanya juga. 

*****

Sepanjang hari saat ada kesempatan, aku menangis. Dan seperti yang ku katakan di awal, aku menikmati dan meratapi nasibku.
Harapan ku tipis, tipis sekali.

Padahal aku sering bilang gini, ke teman-teman yang sedang sulit
-Allah tidak akan menguji hambanya di luar kemampuan nya
- Kun Fa Yakin, itu semua kan cuma prediksi manusia. Kalo Allah bilang "Jadi" pasti jadi kok. Kenapa harus takut sama prediksi manusia. Apa yang ga mungkin buat Allah.
- Doa aja, pasti dikabulkan loh. Kalaupun ga di kabulin di dunia, pasti nanti akan di kabulkan di akhirat.
- Berarti kamu mau naik kelas dikasih cobaan yang belum tentu orang mampu.

Dan masih banyak lagi kalimat penguatnya. Bicara itu gampang, teori itu mudah,  berbeda dengan praktek. Benar, aku hampa. 

*****

Ya Allah, aku harus bagaimana. Aku marah padamu, aku kecewa, aku sakit hati ya Allah...
Setiap,
Setiap bulan aku sakit menstruasi...
Sekedar pertanyaan kapan, itu biasa
Aku benci dibandingkan dengan orang lain yang baru menikah sudah punya anak.
Aku benci diintrogasi tentang ikhtiar ku punya anak, mereka seperti menyudutkan aku. Mba, sudah ibu, sudah itu, coba ini, coba itu. Mereka seolah so' tau
Aku takut perkumpulan keluarga atau tetangga, atau reoni. Aku hindari itu. Bahkan untuk menggendong bayi lucu, aku punya banyak pertimbangan. Gendong mba, semoga nular. Belajar mba biar bisa.
Atau candaan yang menjijikan, aduh jangan nular ke gw deh, gw mah ga bisa ke toel, langsung jadi.
Yang gilanya lagi, saat almarhum bapakku terbujur kaku, ada pelayat bilang "belum isi mba?"
Aku benci situasi itu.

*****


Selasa, 09 November 2021

Tumor Rahim Mioma Uteri

11 September 2021

Pergi Check up, ikut promo USG transvaginal dan Kolposkopi. Jam 15:00

Dokter : Keluhannya apa aja?
Aku :
1. Menikah 8 tahun belum memiliki keturunan
2. Pernah operasi miom 4 tahun lalu
3. Setelah operasi, disuntikkan divalin 3x

Suster : masuk Bu, buka celananya ya. Rileks aja, duduk disini.
Aku : ikut perintah

Dan mulailah alat itu masuk. Sakit? Engga, cuma engga nyaman aja.
Dokter datang cek dilayar, wajahnya prihatin. Sambil periksa, interview berlanjut. Usianya berapa? Masih mau punya anak? 
Awalnya ringan saja pertanyaan.
Saat alat itu dikeluarkan, dokter bilang, miom aku puluhan. Sekitar 20 lebih. Ukurannya beragam. Ada yang besar sebanyak 8buah dan sudah saling menempel. Karena riwayat pernah operasi, maka tidak bisa di operasi lagi. Bisa merusak rahim

Suster : Sekarang cek Servik ya Bu
Alatnya masuk seperti besi. Dokter mulai meneropong bagian "dalam", Alhamdulillah Servik aku bagus.

Setelah selesai, dan sudah rapih semuanya. Kita pindah ke ruang konsultasi.

Dokter : ibu sudah lihat sendiri kondisi rahim ibu, miom nya banyak. Saling lengket dan rapat. Tidak bisa di operasi angkat miom lagi, kecuali angkat rahim. Hati² ginjal ibu bisa bengkak karena tekanan miomnya. 
Ibu masih mau punya anak? Ibu harus diet dan suntik divalin sebanyak 16x. Dan ini tidak ditanggung BPJS.  Ibu bisa pikirkan dulu.

Suster memberikan 2 lembar kertas untuk panduan diet dan pola hidup sehat.

Konsultasi selesai

****
Aku dan suami masih saling diam.
Suntik divalin itu obatnya saja 1,8 juta dan harus sebulan 2x

Suamiku bilang :
Siap asal kamu juga siap.
Kita hadapi bersama

****
Ya Allah
Dirahimku penuh miom.
Sehatkan rahim ini
Gantilah dengan calon Khalifah 


Jumat, 18 Juni 2021

Cadar Hitam dan celana congklang??

Pikiranku di tahun 2013
"Wanita yang  memakai Gamis serba Hitam  dan bercadar adalah golongan teroris. Di sampingnya pasti selalu ada lelaki bercelana congklang. Mungkin mereka adalah satu kelompok dengan Amrozi yang ada hubungannya dengan bom bali atau kelompok agama Islam yang sesat."
Saat suamiku melamarku, aku sempat ragu. Karena sebelumnya ia selalu menuntut agar aku memakai hijab, hijab yang lebar dan tertutup. Dan aku tidak pernah mau memakainya dengan berbagai alasan. Penampilan, Pekerjaan, Gerah dan lainnya. Sampai akhirnya dia mengakhiri hubungan pacaran dengan aku.  Pacaran haram, seharusnya kita langsung menikah saja, begitu katanya. Aku berkelit lagi, Menikah butuh proses, butuh perkenalan dan butuh uang. Sudahlah jangan sok suci, Anak pak haji saja masih pacaran, itu adalah pembelaan bodohku.
1 tahun berpacaran, aku diputusin tanpa salah
 Aku mengadukan percintaanku pada sahabat-sahabatku.
Mungkin dia terlibat dengan Islam  yang aneh sesat. Hati-hati dech sama cowo begitu.
Persis saat itu sedang musim bom dimana-mana. Umat Islam selalu jadi terdakwa, aku mengiyakan. Pantas saja dia mendadak menjadi sok alim. Pacarku pergi begitu saja tanpa kabar. Resmi aku menyandang gelar jomblowati.
*****
6 bulan berlalu senyap tanpa kabarnya. Tak ada lagi tawa ceriaku. Hanya ada tawa basa basi untuk menutupi kejenuhan. Aku merindukan kata-katanya, sms, telpon, jasa antar jemput, bau parfum, aku sangat merindukan dia.

Sayang, semua sudah diblokir, bbm, Facebook, no telp pun sudah berganti. Aku sungguh kehilangan jejak. Cara terbaik untuk mengobati rindu ini adalah membuat akun FB baru dan diam-diam menambahkan ke daftar pertemanan.

Aku membuka Foto di galerinya, lumayan bisa jadi obat pengusir kangen. Dan aku bergeser ke beranda miliknya :

“Berusaha sabar dan melewati hidup dengan optimis. Hanya Allah, karena Allah.. Allah lagi, Allah terus, Allah selamanya (YM)”
“Jadiah orang yang bermanfaat, ikhlas dalam bekerja dan selalu sabar.”
“Lelaki yang kuat adalah lelaki yang kuat mengangkat selimut dan berjalan menuju masjid di waktu subuh.”

Dan masih banyak lagi status bijak di FBnya. Status munafik, seolah menjadi orang yang paling bijaksana, tapi menyakiti hati wanita dan mengakhiri hubungan begitu saja. Benar jika ada pepatah yang bilang antara cinta dan benci memang beda tipis. Mungkin juga benar apa yang dipikirkan oleh sahabatku.

Sungguh perasaan yang sulit, ditambah lagi dengan dongeng indah tentang hidup sabahat-sahabatku. Tentang kehamilan, tentang pacar, tentang suami, tentang memulai membangun  rumah tangga dan tentang debay yang baru terlahir.  Menyesakkan, seharusnya juga aku sudah bercerita seperti mereka. Minimal bercerita tentang “dia”. Tidak ada yang bisa ku bahas selain menjadi pendengar setia dan senyuman yang ku paksakan.

26 umurku, Oh Tuhan, sudah menjelang akhir tahun dan aku??? Ah kisahku memang sangat kelabu, malah warnanya bisa dikatagorikan kelam. Saat teman masa kecilku, bahkan yang dulunya adik kelasku sudah menikah dan memiliki debay, aku malah jomblo. Sering copy darat minta kontak dari temen, beberapakali pernah mencoba menjalin hubungan dengan teman dunia Maya di dunia nyata,  tapi sungguh mencari pasangan ibarat mencari jarum di dalam jerami. SULIT.
*****
 “Wahai para wanita, bantu kami dalam menundukkan pandangan sesuai ayat AnNur ayat 31 Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung

Status FB punya dia.
X aku langsung klik menu tersebut. 10 bulan sejak berakhir, aku masih tak mampu untuk melupakannya. Kadang mata ini selalu berharap bisa membaca statusnya yang merindukan aku. Nihil, Bahkan tak satu pun fotoku yang masih tersimpan di FBnya, Tak ada seberkas sisa diriku dalam hidupnya lagi.

            Menahan pandangannya
            Menutup kain kudung ke dadanya
            Bertobatlan kalian kepada Allah

Bagai text berita yang ada di televisi, penggalan kalimat dari statusnya seperti berjalan di otakku. Ilmu apa yang sedang ia pelajari, benarkan itu perintah Allah, bukankah hijab hanya untuk wanita alim?
Akhirnya kuputuskan untuk searching ilmu agama, memang selama ini aku hanya pergunakan mbah google untuk chating, update status, dan copas untuk tugas mata kuliah.

Ternyata semua itu memang benar ada di dalam Al-Qur'an, yang hampir tidak pernah aku baca terjemahnya. Kemanakah arah hidupku? Masihkah menuduh dia seorang teroris? Atau mengikuti perkataannya yang memang tercantum dalam Alquran, perkataan dari kutipan surat cinta Allah yang tak pernah ku sentuh.

Ingin aku membuka Chat via FB dengannya. Dan mengakui bahwa yang bernama FB Ranum Fiani adalah aku. Niatku sederhana, Hanya ingin meminta maaf, tidak berani berharap lebih, karena aku sudah pasti bukan pilihannya, aku bukan tipe wanita yang tercantum dalam Al-Qur'an.

*****

2 bulan di awal tahun baru berjalan lambat untuk hidupku. Sebagian waktu istirahat di kantor, kupergunakan untuk menggali ilmu agama. Aku sudah berhenti jadi pendengar setia, Bosan dengan cerita yang itu-itu saja, Bosan yang dibagi tidak lebih dari tempat makan, baju, film atau tempat nongkrong. Aku sedang tidak tertarik terlibat dengan percakapan seperti itu. Sahabat-sahabat bilang aku berubah, tak pernah mau kumpul lagi.

Sekarang aku memang merasa asing dengan diri sendiri. Selalu ada perdebatan tentang hijab, pelarangan pacaran, dan lainnya. Aku juga sudah berhenti copy darat atau minta dikenalin sama teman atau mencari pacar di dunia maya. Mengenai dunia maya, tiga bulan terakhir ini  aku berhenti mengikuti statusnya. Niat sederhana untuk mengatakan maaf  yang selalu terlintas, masih belum sanggup aku katakan. Menikmati kesendirian ini, termasuk saat malam minggu, aku tidak lagi keluar untuk sekedar nongkrong dengan teman-teman. Memilih di rumah, tepatnya berada di dalam kamar untuk merenung.                                              
                        *****                                                                                        

September 2012
Aku terlahir kembali, setelah melalui perdebatan panjang dalam kesendirian. Aku memakainya, penutup kepala dan  penutup pakaian. JILBAB. Semua orang dikantor heran, dan terkejut. Ada sebagian yang mengucapkan selamat atas hijrahnya aku. Tetes air mata ini ikut jatuh saat menerima ucapan selamat yang diiringi doa  “Semoga istoqomah dan menjadi muslim yang lebih baik.”

Masih ingat kostum pertama berhijab, aku mengenakan ciput yang berkonde agar hijabku tersangga dengan baik. Rasanya tidak PD kalo hijab di kepala polos tanpa konde yang menyangganya. Aku nyaman dengan kostum seperti ini. Namun suatu waktu, tidak sengaja membaca postingan FB Milik Abu Hanifa, ia memang aktif menyebarkan dakwah di media sosial. Kebetulan pembahasannya mengenai hijab, jadi aku tertarik untuk membacanya :

“Para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian” (HR. Muslim no. 2128)

Itu Aku?
Benar sekali aku memakainya, karena hampir semua toko baju memasarkan ciput berkonde. Semua ciputku yang berkonde. Bismillah, sejak saat itu aku mulai mengulurkan hijab menutupi dada.

*****

Minggu depan Wisuda, di usiaku yang hampir 27 tahun. Terlambat memang untuk ukuran umur yang hanya Diploma 3. Aku mencoba toga yang baru saja ku ambil dari kampus.

“Tadi temen kamu si.. aduh siapa yach namanya, itu yang dulu nyuruh kamu pakai jilbab”
Serrr, Desir aliran darahku sangat nyata
“Tadi dia kesini, tapi mamah ga suruh masuk, cuma diluar aja. Dia Tanya kabar kamu, Terus minta nomor hp kamu?”
“Trus?” suara ini hampir tak keluar dari rongga mulutku, terasa tertahan.
“Ya ga mamah kasih, mamah bilang jangan ganggu anak saya lagi. Terus dia ninggalin nomor HP. Tapi mamah buang ke tempat sampah.”
“…..”
“Kamu hati2 ya sama dia, kelihatanya beneran sesat tuch anak. Lancang lagi pake tanya status.”
Aku hanya menggangguk, sambil menutup pintu kamar.

Berjam-jam mata ini terus terjaga, aku putuskan untuk menghadapNya, pasti akan memberikan kedamaian. Cukup satu hal yang aku keluhkan dan resahkan yaitu aku tidak pernah sanggup mengucapkan kata maaf. Padahal jelas sekali dalam hukum Allah bukankah Allah tidak akan memaafkan hambanya, kecuali hambanya meminta maaf dulu kepada sesamanya.
04.00 Pagi.

“Maafkan atas ketidaktahuan saya. 3Nh”
Ku kirimkan SMS singkat padanya. Semoga saja nomornya benar, karena sudah sangat lusuh. Setelah tahajud, aku mencari kertas itu di berbagai tempat sampah yang ada di dalam rumah.          

*****

Sepanjang bekerja hari ini aku selalu merasa tegang, was was, dan menunggu. Tidak kutinggalkan HP ku dalam radius yang jauh, benda itu selalu aku bawa kemana pun aku pergi, termasuk saat buang hajat di toilet, benda itu tak pernah jauh dariku hari ini.

Tepatnya sekitar 63 Jam berlalu dari SMS itu, perasaan ini masih sama, tidak berubah. GELISAH…. Teman kampusku juga gelisah, sama sepertiku, via Group FB mereka sibuk dan bingung membahas kebaya dan make up untuk wisuda yang tinggal 4 hari lagi.

Usai Makan malam, Orangtuaku biasa berbincang di teras rumah. Aku langsung masuk kamar, melakukan kebiasaan baru, membaca novel pembangun jiwa, Habiburahman El Shirazy, penulis novel bergenre Islami yang secara tidak langsung aku belajar banyak tentang Islam dari beliau.

#Maafkan bila ku tak sempurna, cinta ini tak mungkin ku cegah ….
Ku biarkan hp ku berdering, mendadak jari ini lemah untuk menggapainya
#Maafkan bila ku tak sempurna, cinta ini tak mungkin ku cegah ….
Lagi.Berdering dari nomor yang sama, nomor miliknya

“Asalamualaikum…”
“…salam.” suaraku menghilang hampir tak keluar, terjepit di kerongkongan.
“Apa kabar?”
“…..” Aku malah menganggukan kepala, seolah-olah dia ada di hadapanku, desiran aliran darah dan pompa jantung ini semakin kuat,.
“Aku juga minta maaf, sudah sok menggurui kamu.”
Alhamdullilah, akhirnya aku dimaafkan. Pasti Allah juga memaafkan perbuatan masa lalu aku. Air mata ini langsung meleleh. Terharu, seolah diri ini terbebas dari beban yang  dipikul.

Obrolan berlanjut mengenai perihal kedatangannya kerumah dua hari yang lalu. Awalnya saat Jumat sore, sewaktu melihat teman adiknya membuka laptop milikku. Destopnya berlatar fotoku yang sudah berhijab. Laptop itu memang sedang dipinjam oleh Ida untuk menyusun skripsi. Melihat aku yang sudah berubah, dia melakukan investigasi lebih melalui akun FBku. Nihil, aku tidak pernah posting photo dan update status lagi, yang dulunya sering mengshare makanan, Tiket nonton, foto jalan-jalan, keluh kesah sampai kalimat dengan kesan marah dan kasar, kini tidak ditemukan di akunku

Memang sejak berhijab, aku memilih menjadi silent reader. Dari akun FB asliku, dapat disimpulkan bahwa aku sudah berubah.

Telpon berdurasi kurang lebih 15 menit , diakhiri dengan sebuah pertanyaan yang membuatku  harus berpikir lebih keras.

*****
WISUDA…
Percaya dengan rahasia Allah?
Allah maha pemberi jalan keluar bagi hambaNya yang bersandar kepadaNya. Sabtu ini aku resmi di wisuda. Dan bonus tambahan yang Allah berikan adalah aku dilamar. Setelah berdebat panjang dengan keluarga, aku meyakinkan mereka bahwa dia bukan teroris, dia hanya berhijrah di jalan Allah tanpa pacaran, dan hanya ingin memiliki istri yang sudah berhijab, karena dimata Allah, suami juga yang menanggung dosa istri di akhirat nanti. Bukan hanya keluargaku saja, sahabat dan kerabat juga banyak yang bertanya mengenai keyakinanku. Propaganda hijab di akhir zaman cukup sukses menodai pola pikir umat Islam. Aku bersyukur bisa berubah menjadi muslim yang lebih baik lagi, muslim yang bermartabat dan menaati Allah dan Rosulnya.
Alhamdullilah, tiga bulan setelah wisuda atau lamaran, aku menikah dengannya setelah satu tahun lebih tanpa komunikasi. Kami memulai hubungan baru yang Allah halalkan.

Mengenai perjalanan hijabku, sedang dalam proses menuju kesempurnaan hijab. Juga ilmu Islam lainnya. 

HIJAB aku dan Mereka


2012, bertemu teman lama.
Pastinya menyenangkan. Apalagi di tempat dan waktu yang tidak terduga. Tiba-tiba dipertemukan Allah begitu saja.
Dalam satu bulan ini, aku bertemu dua teman lama. Baik teman sewaktu sekolah, maupun tempat kerja yang sebelumnya. Sekitar 7-10 tahunan tidak berjumpa. Aku yang menyapanya lebih dahulu. Aku panggil namanya dengan antusias dan riang. Tapi tidak langsung direspon, justru mereka berpikir sejenak sambil mengingat-ingat, siapa ukhti yang sudah sok akrab ini?

1.    Temen SMU.
Seorang perempuan, yang setiap hari selalu pakai hijab saat sekolah, sedangkan aku memakainya hanya seminggu sekali saat ada pelajaran AGAMA ISLAM dan itu pun hanya 2 jam, demi menyelamatkan nilai. Guru agama selalu mengancam, jika tidak menutup aurat maka nilai agama Islam mendapat angka 5. 
Kelas satu SMU pada tahun 2000, belum banyak siswa sekolah negri yang berhijab. 

Saat pelajaran usai, aku selalu berubah, melepas hijab. Sebenarnya bukan aku saja, banyak juga siswi yang mengganti pakaian usai pelajaran agama. Dikarenakan ruangan kelas tidak berAC dan tidak ada kipas angin. Semua angin murni dari pentilasi udara.

Kembali lagi pada teman yang ketemu di mall. Sungguh disayangkan, kini ia melepas hijabnya. Dikarenakan alasan pekerjaan yang tidak mengizinkan karyawannya menggunakan hijab. Padahal dulu, dia selalu meledek dengan kalimat "Jilbabnya Tri terbang". Saat ini bahkan dia nyaris tidak mengenalku, dikarena aku memakai gamis syar'i dan tubuhku lebih gemuk dari sebelumnya. Juga ditambah kacamata yang baru aku pakai saat bekerja. 12 tahun tak bersua, entah aku merasa ini pertemuan yang memilukan. Allah, aku ingin memiliki kedudukan di perusahaan, agar aku bisa mengajak temanku bekerja tanpa harus mengorbankan hijabnya.

2.   Temen kerja
      Usai lulus sekolah aku bekerja di Alfamart selama 5 tahun. Dari tahun 2004-2009.  Alhamdulillah perusahaan ini tidak melarang karyawannya memakai hijab. Justru saat bulan puasa, Kasir wajib memakai hijab.
      Customer setia bilang mbak kasirnya berubah, jadi Sholeha. Wah nambah cantik mba, pakai kerudung dan pujian lainnya.
      Namun sayangnya, suasana seperti itu tidak mampu merontokkan kerasnya hati ini. Aku masih belum mau konsisten berhijab. 
      
     "Tri, lanjutin saja. Sayang sudah sebulan pakai, terus sekarang dilepas. Tri, tambah anggun dan keliatan aura feminimnya"
      Saat itu demi menghargai pendapatnya, aku pura-pura berpikir mau memakai. Padahal secuil niat pun belum hadir dipikiranku. Ya Allah, sekeras apakah hatiku saat itu?

      Aku memakai karena aturan kerja, juga punishment. Jika tidak berhijab, maka akan di SP juga dipindahkan tempat kerjanya atau rolling. 

      Saat bertemu tahun 2012, lima tahunan kita tidak berjumpa, karena aku mendapatkan pekerjaan lain. Kali ini kami dipertemukan Allah saat sedang menunggu hujan reda. Samping kiriku ada 2 anak balita, satu bermain rintik hujan, satu digendong ibunya. Dan ibunya ternyata sahabatku sewaktu di Alfamart. Orang yang selalu memberikan motivasi dan  mengingatkan keutamaan berhijab. Kini wanita itu berdiri di sampingku tanpa penutup aurat. Bercelana panjang dan kaos pendek, rambutnya yang sebahu diikat asal. Letih sangat tampak pada wajahnya.
      Ia adalah seorang ibu rumah tangga, yang sangat kerepotan dengan dua anak balita juga 3 kantong kresek besar, berdiri letih di depan mini market untuk menunggu suaminya pulang. Katanya, buah hatinya tidak sabar untuk beli es cream, jadilah ia belanja bulanan tanpa suami. Selang beberapa menit, suaminya datang. Obrolan terhenti.

      Allah mengirimkan pesan, atas apa yang terjadi hari ini. Usiaku 26 tahun, masih lajang. Saat banyak sahabatku sudah menikah dan memiliki anak. Aku hanya ingin menikah dengan pria yang lebih Sholeh dariku. Agar urusan dunia yang melelahkan, tidak menggerus imanku. Tidak ada alasan kerepotan pakai hijab karena mengurus rumah tangga. Semua itu, ada dalam pendidikan keluarga, akidah dan tauhid yang kuat yang bisa didapat dari teman hidup yang Sholeh.

      Akupun baru 6 bulan memakai hijab. Awalnya saat ada majalah hijaber. 2010an trend hijab meningkat. Gaya dan model penutup kepala itu bermacam-macam. Itu semua ada dalam tutorial di majalah hijaber. Kami kaum hawa selalu ingin kelihatan modis dengan hijab. Aku dan teman-teman dikantor sering coba-coba model hijab yang lucu. Awalnya begitu niatku. Hanya coba-coba, hanya karena hijab lagi trending, artis-artis banyak yang yang memakai dan terlihat cantik tidak ketinggalan zaman.

Tak apa, mulailah kebaikan dengan berbagai cara. Nanti cara atau niat yang salah, akan tergerus oleh niat yang tulus. Perlahan aku belajar tentang makna hijab. Hakekatnya untuk melindungi dan menjaga kehormatan seorang wanita. Sungguh hijab adalah pakaian takwa yang tidak berlaku kata kuno saat memakainya. 

"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri istrimu, anak anak perempuanmu dan istri istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Al Ahzab: 59).
 

Aku merasakan ini dengan indah..
Tidak sesulit seperti yang aku bayangkan dulu. Dalam rintik hujan, air mataku menyatu. Allah kuatkan imanku, selalu. Sungguh sangat mengerikan melihat pelajaran yang Engkau kirim melalui sahabat lamaku.

Rabu, 19 Mei 2021

Lebaranku di semua masa. Kanak-Kanak, ABG, Dewasa, Pengantin baru, Berkeluarga

Lebaranku saat masa kanak-kanak
Artinya bebas tidak berpuasa lagi, punya baju baru dan dapet banyak amplop. 
Perasaanku sungguh sangat bahagia luar biasa bisa berkumpul dengan keluarga besar dan makan masakan mamah yang sangat lezat. 
Kegiatan lebaran yang paling sibuk adalah, menghitung uang THR dari mama, kakak, tamu bapak, tetangga dan banyak lagi.
Lalu sibuk membuat cash flow, mau buat apa saja uangnya.

Lebaranku saat ABG menjelang dewasa.
Sudah mulai berkurang yang memberi amplop. Bedanya setiap amplop nominalnya besar. 
Perasaanku sangat senang bisa libur lebaran, bisa jalan sama teman.
Kegiatan lebaran yang paling sibuk adalah, membantu mama bersih-bersih perabotan dapur. Dan berantem sama kakak karena sering disuruh-suruh.

Lebaranku saat dewasa dan masih single.
Dari sisi keuangan, jelas hampir tidak ada yang memberi. Tapi tak apa, justru kini saatnya berbagi pada orang tua, ponakan juga adik-adik. Kebiasaannya yang berbeda Cash Flow dibuat sebelum lebaran.
Untungnya setelah lulus sekolah, sudah bekerja. Tapi suasana saat kumpul keluarga atau kerabat dan tetangga, mulai terasa perbedaan strata sosialnya. Khususnya pertanyaan "kapan". Tidak apa, namanya juga jarang ketemu, mau bahas apa lagi buat bahan basa-basi. Namun dibalik pertanyaan "kapan" terselip banyak hal yang membandingkan nasibku dengan orang yang usianya sepantaran denganku.
Kegiatan lebaran yang paling sibuk, adalah bersih-bersih rumah dan dapur. Selebihnya nongkrong bareng temen, halal bihalal.

Lebaranku saat sudah menikah 1-3 tahun
Alhamdulillah punya keluarga baru dan suasana baru. Masih semangat-semangatnya PDKT dengan keluarga suami, terutama mertua. List jatah pembagian uang THR pun bertambah banyak. Waktu libur lebaran harus dibagi. Beberapa hari di Yogya tempat nenek, beberapa hari di rumah mertua, dan beberapa hari di rumah ortuku, juga sisakan waktu untuk lingkungan rumahku. Namun jatah libur terlama adalah berada dirumah mertua.

Lebaranku saat sudah menikah 4-6 tahun.
Mulai introspeksi diri, semoga tahun depan kita bisa bertemu Ramadhan dan Syawal. Mulai ada keluarga yang dirindukan tapi tak dapat bertemu selamanya.
Kedua orang tua sudah sepuh, aku hampir tidak pernah berlebaran bersama mama bapak dihari lebaran, karena mengikuti suami pulang kampung. Ada rasa rindu suasana itu. Begitulah berkeluarga, harus ada yang mengalah. Karena pertemuanku dengan orangtua bisa kapan saja, rumah kami dekat.
Mulai tahun ke 4, lebaran bersama keluarga suami, aku belum diberi kepercayaan oleh Allah untuk menjadi ibu.
Awalnya aku yang terbuka, ceria dan semangat supaya bisa akrab dengan keluarga suami, kini menjadi pribadi yang tertutup dan tidak percaya diri. Lebaran mulai tahun ke 4 ini memang tidak seindah diawal awal menjadi menantu. Perasaanku sangat sensitif. Sering sekali dijadikan candaan, diinterogasi, dijadikan bahan perbandingan. Aku merasa tidak berharga. Tak jarang aku stres, aku ingin menghindar dari acara pertemuan keluarga.
Alhamdulillah, setelah nyiyiran pasti juga berujung pada pemberian doa. Karena hal ini, aku berharap semoga Allah kabulkan doa mereka semua, meskipun mereka sudah jilid dan nyinyir terhadapku.
Lebaran tahun ke 6, Akupun berdoa :
Ya Allah, setelah lebaran ini, izinkan aku hamil dan punya anak. Aamiinkan doa mereka. Aku ingin merasakan menjadi ibu, dan membahagiakan mertua juga orangtuaku. 
Perasaanku semakin sensitif, apalagi aku pernah operasi tumor rahim dan terapi, juga mengikuti program hamil, namun hasilnya gagal.
Lebaran ke 5 dan 6, aku mulai menghindar. Tidak lagi tahan lama-lama mudik di rumah mertua. Hanya nginap 2 malam, lalu pamit pulang. Jika suami tidak mau ikut, aku pulang sendiri. Yang penting, aku sudah menjenguk mertua di hari lebaran.

Lebaran tahun ke 7 dan 8 setelah menikah.
Aku masih belum hamil. Usiaku sudah hampir 35. Banyak artikel mengatakan bahwa usia setelah 35, sistem reproduksi wanita mengalami penuaan. 
Entah aku harus beralasan apa, aku tidak mau berlebaran di rumah mertua. 
Maha suci Allah yang selalu melindungi hambanya. Tahun ini ada virus Corona, Pemerintah melarang mudik lebaran. Aturan ini membuatku bahagia. Maaf, bukannya aku tidak berempati dengan kalian semua para perantau, yang memiliki tradisi mudik. Aku hanya merasa ini adalah lebaran yang paling kunantikan. Setelah sekian purnama, aku baru bisa berlebaran dirumah orang tua. Makan masakan mama yang lezat, meskipun bapak semakin kurus dan sepuh. Aku bahagia, aku teringat masa-masa kecilku yang dimanja oleh mereka. 

Lebaran tahun ke 8
Keadaan masih sama. Masih ada Corona, pelarangan mudik dan aku yang belum hamil.
Kembali aku berlebaran dirumah orangtuaku. Namun tahun ini tanpa bapak. Bapak sudah berpulang ke Rahmatullah. Ini lebaran tahun pertama, yang cukup berat.




Senin, 04 Februari 2019

Hati hati menjaga hati




Rumah saya ada di perumahan Balines ya Neng.
Dari gerbang lurus sampe ketemu perapatan yang ke 2 baru belok kiri. Lurus aja sampe mentok neng. Blok H 23.
Setelah share lokasi nya dikirim, ia menelpon ku.

Oke Bu. Waalaikumsalam.

Langsung saja ku tancap gas motor ini, sesuai arahannya. Hari ini aku akan ketemu ibu Mayang, temen ku sewaktu kita mengaji tahsin bareng. Umurnya hampir 50an, anak pertamanya saja sudah lulus kuliah, katanya umurnya sudah 24th. Usia kami memang berbeda jauh. Cocoknya sih, aku panggil beliau Tante. Tapi di tempat pengajian kan lebih sopan kalo panggil ibu saja. Dan beliau memanggil ku dengan Neng Dias.

Sampai aku di Blok H no 23, aku tak langsung mematikan mesin motor. Ku amati dulu. Ada mobil Pajero sport Hitam dan Brilio warna merah. Sementara ragu, karena seinget aku beliau mobilnya Yaris warna putih. Aku mengamati dari depan halaman. Halaman yg cukup asri, ada kolam ikan Koi dan tamanan rambat yang indah. Didepan kolam, ada gajebo yang dilengkapi dengan bunga anggrek pada pojokan tiangnya.

Neng,.. kok ga masuk. Ayo silahkan.

Itu suara Bu Mayang, yang ternyata sudah menunggu dari tadi. Ayo, silahkan masuk. Anggap aja rumah sendiri neng, Suara ramahnya mencairkan rasa canggung ku.

Aku mengikutinya, katanya kita ngobrol di dalam aja lebih santai, sambil mencicipi masakan ibu. Hari ini ibu masak bakso, tempe mendoan, ikan asin dan ada risol isi ayam dengan saus mayones loh, kamu harus cobain semua. Mau minum apa neng? Panas apa dingin?

Dingin aja Bu, kebetulan cuacanya panas banget hari ini.

Aku sampai dirumahnya sekitar pukul 14:30, tapi sinar matahari masih terasa begitu menghangatkan tubuh. Niat ku berada disini adalah untuk mengantar kurma Ajwa pesanan beliau. Aku baru jualan kurma dan makanan cemilan sunnah food, sekitar 1 bulan terakhir. Bu Mayang beli, karena tertarik dari iklan status WA ku.

Kami membicarakan kegiatan masing-masing, setelah lulus dari LTQ. Beliau menjalankan visi misinya yaitu memberantas buta huruf Al-Qur'an. Alhamdulillah Allah mengabulkan niatnya, kini kegiatan nya dari senin sampai jumat, mengajarkan ibu2 komplek baca Alquran sesuai makhrijul huruf, sifat huruf dan tajwidnya. Santrinya sekitar 50an.

Lalu aku? Alhamdulillah aku sekarang menjadi guru Tahsin dan Tahfidz di sekolah dasar berbasis Islam Terpadu. Aku juga sempat menjadi pengajar di LTQ, tapi karena aku belum memiliki momongan, aku cuti dulu, biar kalo weekend aku bisa istirahat.

Hampir 7 bulan aku tidak lagi bekerja dikantor, yang meskipun memiliki jabatan sebagai Staff, tetep saja orang sekitar bilang aku hanya karyawan pabrik. Buruh atau pekerja. Qodarullah, Allah mengangkat derajat hamba nya dengan Alquran. Aku bukanlah S.Pd. Aku bisa diterima berkat sertifikat Utsmani yang aku memiliki saat belajar bareng Bu Mayang. Meskipun gaji nya sangat dibawah standar untuk tingkat orang kantoran. Tapi banyak orang respect dengan pekerjaan guru. Apalagi saat aku pakai seragam PGRI.

Azan berkumandang, pembicaraan kita berhenti sejenak. Bu Mayang tadi menanggapi, Insya Allah gaji neng berkah. Bisa sampai akhirat. Ilmu yang neng ajarkan semoga menjadi ilmu yg bermanfaat. Yang penting ikhlas.

Yang penting ikhlas, astaghfirullah...
Kadang kalau lagi cape, Aku mengeluh dan membandingkan pekerjaan ku yang sebelumnya. Aku merasa pekerjaan ini sangat menguras tenaga dan pikiran. Tidak ada jam istirahat selain menanggapi anak yang nangis, anak yg ngadu dipukul, atau jatuh dengan tiba2. Belum lagi bikin RPP, rapat, kegiatan² dan agenda kelas lainnya yg menguras waktu, tenaga dan pikiran. Lebih enak kerja dikantor. Duduk sambil dengerin musik, ruangan tenang, jika lembur diberi tunjangan dan gaji besar.

Astaghfirullah, aku belum menjadi orang yang ikhlas. Niat ku mengajar juga karena aku ingin belajar ilmu parenting sekaligus praktek, jika suatu saat nanti aku punya anak, aku tau cara menangani nya. Juga bekerja dengan halal tanpa manipulasi data.

Astaghfirullah, aku kembali beristighfar sekalian mengumandangkan doa setelah azan. Semoga Allah ampuni kesalahan ini.

Ku lihat beliau sedang menyiapkan tempat mukena untuk sholat ashar. Rumah ini asri dan bagus, beliau sudah jadi ustadzah di komplek ini. Anaknya sudah 4, dan sudah besar semua. Pagi sampai petang, hanya ditemani oleh anak bungsunya dan ART saja. Pergi kemana mana, bisa mengendarai mobil sendiri. Beliau orang kaya yg ramah, pintar dan ikhlas. Mungkin ini yg disebut sukses dunia akhirat. Hidupnya mirip jalan tol ya, tidak seperti aku. Yang hanya guru menyambi les privat dan jualan kurma motoris. Jika sampai dirumahku nanti, aku sendiri lagi tanpa adanya suara anak2. Sepi....

Sesudah sholat , aku berpamitan pulang. Ibu Mayang mengantarkan aku sampai teras rumahnya.

Neng, ini bungsu saya yang special, baru pulang dari mesjid. Ayo salam sama Bu guru.

Bungsu ibu tinggi ya, sudah kelas berapa? Aku bertanya kaku

5 eh 6, mama aku kelas berapa ya sekarang? Anak ini menjawab bingung.

Vian Kelas 6 Bu guru, .. ibunya bantu menjawab.

Wah pinter, ya sudah Bu guru pulang dulu ya Vian. Aku usap kepalanya, seusai itu aku pamit dan langsung ke acara selanjutnya yaitu privat calistung.

Hati hati menjaga hati, disepanjang perjalanan menuju pulang, aku sadari bahwa kehidupan aku adalah yang terbaik untuk diriku. Allah tidak akan menguji hambanya diluar kemampuan hambanya. Mungkin jika ujianku seperti Bu Mayang, belum tentu aku sanggup memiliki anak special.
Ya Allah, aku tidak akan membandingkan hidup orang lain. Ampunkan hati ini karena sempat iri pada hidup orang lain.

Januari 2019
Hati hati menjaga hati
Tri_Nh

Sabtu, 15 September 2018

Hijrah ke 2 ku


Hijrah ke 2 ku,
Setelah aku menutup aurat 6 thn yg lalu.
Setelah aku berhenti memakai celana panjang atau jeans.
Setelah aku berhenti merayakan ultah, tahun baru masehi.
Setelah aku berusaha berhenti mendengarkan musik.
Setelah aku mengenal Rochman Hidayat

Lebih dr 5 perusahaan aku berkarir.
Jadi SPG di mall, yg harus make up.
Jadi kasir di Alfa***rt yg merangkap sebagai OB
Jadi staff gudang dipabrik jus.
Jadi staff costing di pabrik helm.
Jadi Admin QIP di pabrik sepatu.
Jadi Asisten konsultan di pabrik garmen.
Jadi SPV. HRD di pabrik genteng.
Jadi pengurus koperasi juga.

Dan aku tidak pernah ada di bidang yg sama. Aku selalu mencoba hal hal baru, posisi baru, tempat baru. Aku selalu belajar hal baru. Mungkin itulah karakter seorang pendidik : menjadi pembelajar sejati.

Insya Allah, ini adalah awal karier aku sampai selamanya. Karena ada hadis nabi yg membuat ku merasa harus bertanggung jawab :
MENYAMPAIKAN ILMU YG BERMANFAAT.
Maka di 32+ usia ku, aku putuskan untuk berhijrah.
Aku tidak diperusahaan lagi, aku kini berkecimpung di dunia pendidikan. Maka jangan tanyakan lowongan kerja lagi padaku.

Aku ingin bibir dan suara yg selalu mengajarkan ALFATIHAH ini suatu bisa menjadi Syafaat.
Aku bersyukur menjadi pilihan Allah untuk menjadi pembimbing.
Aku juga sangat bahagia, bisa merasakan mengasuh dan mendidik bintang2 masa depan.
Aku sungguh terharu, saat mendengar mereka memanggil ku bunda. Bunda adalah panggilan untuk guru perempuan.
Maka nikmat yg mana lagi yg aku dustakan.

Bahkan kini aku aktif di 2 tempat.
SD Islamic School dan
Lembaga Tahfidz Alquran
Masya Allah,
Karena menjadi guru, semoga aku segera memiliki bintang2 hebat dan aku bisa menjadi bunda yg hebat.
Karena menjadi pembimbing di lembaga tahfidz Quran, semoga kelak aku menjadi hafidzah.

Hijrah ke 2
Tri Nurhayati

Minggu, 31 Januari 2016

Hari Special yang terlewatkan olehnya

Hari Special diantara kita yang sering terlupakan oleh pasangan.
Misalnya saja, hari ulang Tahun atau pernikahan ulang tahun. Biasanya yang sering lupa sich para suami. Hayo, pasti banyak kan yang ngalamin hal yang kaya gini.

Emang nyesek banget di hati. Kalo malam hari jam 00.00 udah ngarep2 dapet ucapan ultah, eh malah ga dapet. Sampe disini, masih berpikir, Mungkin suamiku kecapean, Jadi malamnya ga ucapin.
Begitu bangun tidur, ga ada yang beda, mandi, dan siap2 ke kantor. Lagi2 kata2 itu ga di ucapin. Oh mungkin nanti malam kali mau diajak dinner berdua, sambil senyum2 penuh Harap. Hayalan yang tadinya cuma dapet ucapan "Selamat Ulang Tahun" jadi meningkat dech ke Acara Makan malam dan dapet kado. sampe disini masih Pura2 tenang aja lah, sambil nunggu bbm, telp atau What ups dari my special hubby..

sampe dech di jam 07.00 Malam, masih ga ada tanda2 kalo bakal di ajakin diner. Ada rasa gondok nich mulai berhias di hati, dari pada penasaran coba buka tas kerjanya. dan emang ga ada kado sama sekali. Suami tetep asik Jualan On line.

Sumpah BT banget diginiin, Ya udah saya mogok bicara. Ternyata suami masih ga ngerti juga. Cape mogok dan akhirnya malah bikin dia ikutan mogok bicara juga, akhirnya saya bilang aja sambil manyun, Kenapa ga ucapin selamat ulang tahun buat saya.

Sampe disini masalah ngambek saya udah jelas. Suami yang mungkin memang ga pernah ada tradisi buat ngucapin itu heran. Tapi saya lebih heran ternyata ada yach orang yang punya tradisi untuk tidak ngucapin selamat ulang tahun.

Tahun ini saya ga mau ambil pusing. Saya mau bahagia di hari ulang tahun saya, karena ini adalah hari special saya.
Saya mencuri waktu kerja saya untuk mengirim email pada suami, judulnya "Undangan". Di email itu saya yang tentukan makan malam dimana, kapan, jam berapa dan harus bawa kado special. Konyol memang, karena saya tidak ingin seperti punguk merindukan bulan. Saya mau di beri ucapan, makan malam dan kado terindah di hari ulang tahun.

Pulang dari kantor, kami menuju tempat makan yang sudah saya tentukan. Acaranya sukses, suami saya bawa kado untuk saya. Dia berpesan agar saya membukanya sewaktu dia sudah tidur. Baiklah, tak masalah, batinku.

*****

Inilah saatnya untuk membuka kado. Saat suami sudah tidur. 
JAM DINDING dan Nasyid
Yach itulah yang ia berikan. Dan secarik kertas hasil tulisan tangannya.

Sayangku, Mulai hari ini dan seterusnya berusahalah untuk menjadi seorang yang hemat. Terutama Hemat waktu, jangan lakukan hal2 yang tak penting, karena sisa umurmu kian menipis. Ulang tahun sebaiknya dijadikan kilas balik. Sampai dimana tingkat amalan yang sudah kita persiapkan. Bagaimana dengan duha, tahajud, qobliyah, badariah, puasa senin kemis, tilawah dan hafalan??? Dan yang terpenting adalah bagaimana kita sebagai hamba Allah, mampu menjadi insan yang berakhlak Qurani.
Ini sebabnya mas tidak pernah memberi ucapan itu. Untuk apa merayakan umur yang kian berkurang, sementara amalan tidak bertambah. 
Sayang coba dengar lagu I'tiraf (Sebuah Pengakuan) disana kamu akan temukan arti umur yang sebenarnya. 
Semoga sayangku bisa menjadi istri sholeha.

Note : Tolong ganti jam dinding dikamar kita, dengan jam ini. Yang diameternya 2x lebih besar.

Salam

Masmu RHD


Sungguh kado yang diluar dugaanku. Segera aku ikuti sarannya. I'Tiraf aku putar berulang2 sampai aku masukkan maknanya ke hati. 

Ending hari ulang tahunku tahun ini adalah :
Aku bertekad akan mengingat hari kelahiran dengan ibadah yang bertambah. Dan aku memutus kebiasaan ini hanya sampai tahun ini dan hanya sampai padaku.
Kelak Aku akan luruskan mindset anak2ku agar tidak berhura2 dalam merayakan sisa umurnya.

Bukankah manusia seakan-akan tinggal di dunia melainkan  (sebentar saja), di waktu sore atau pagi hari (An-Naziat 46). Maka tidak perlu ada perayaan, kecuali pada tanggal 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah.
Untuk menjadikan special, buat ulang tahun berlalu dengan Doa dan perbaikan diri. 

Tri_Nh


Jumat, 22 Januari 2016

Filosofi Nilai Rapor



Pernah liat kan ukuran penilaian pada raport. Sejak dari duduk di bangku TK, SD, SMP, SMU bahkan perguruan tinggi,  Nilai tertinggi biasanya adalah 10 atau 100, atau bila dijabarkan lewat huruf ada pada posisi Grade A.
Arti dari nilai tersebut masing2 sama. 10, 100 atau Grade A, sama sama berarti  ISTIMEWA. Bukan Sempurna.
Sejak dibangku TK, secara tidak langsung kita sudah diajarkan mengenai penilaian.
Namun disaat beranjak dewasa, posisi Grade A bukan lagi sebagai hal yang istimewa.
Seorang jomblowan atau jomblowati mendambakan memiliki pasangan hidup yang sempurna.
Seorang ibu yang bisa hamil dan melahirkan, dicap sebagai wanita sempuna.
Seorang pria tampan, memiliki rumah dan pekerjaan yang mapan biasanya disebut perfect.
Seorang anak terlahir didunia, tanpa cacat fisik di sebut bayi sempurna.

Begitulah manusia mengagumi keindahan manusia lainnya. Padahal Syaidina Aisyah RA, tidak pernah melahirkan, namun Allah SWT sudah menetapkan beliau menjadi penghuni surga.

Pria tampan mapan juga tidak bisa disebut sempurna atau perfect karena belum tentu dia bisa mendidik istrinya menjadi soleha, membangun keluarganya tanpa percecokan dan ketampanannya pasti akan usang tergerus oleh waktu.

Jelas banyak sekali manusia yang terlahir dengan fisik yang lengkap, pasti semua manusia pernah juga melakukan dosa dan khilaf.

Jadi mulai lah ganti kebiasaan menyebut orang yang anda sayangi dengan kata yang tepat. Dan bercita2lah untuk dapat menjadi manusia pada level Istimewa.
Menjadi istri yang istimewa, Menjadi anak yg istimewa, Menjadi suami yang istimewa. Menjadi Wanita yang istimewa. Menjadi ibu yang istimewa. Menjadi Insan yang istimewa. dll. Insya Allah cita cita tersebut bisa menuntun manusia menjadi Sholeh dan Sholeha.

Dengan mengganti kebiasaan kata sempurna atau perfect menjadi istimewa, Insya Allah telah tertanam pada diri masing2 mengenai ilmu Tauhid, bahwa kesempurnaan yang haqiqi  memang milik Allah.

Tri_Nh

Senin, 02 November 2015

MUHARRAM : HIJRAH



RABU dari jam 6 Pagi sampai dengan jam 5 sore
Kalo dihitung sekitar 12 jam.
Aku memasuki mesjid dengan Ragu. Mencari dimana teman angkatan ku kelas Tahsin 2 Level 2. Pandanganku patroli keseluruh aula mesjid, nihil tak satu pun ku temukan teman seangkatan. Aku telp salah seorang dari mereka dan aku hubungi beberapa melalui WA dan BBM. Dan semua yang aku hubungi tidak ada yang hadir pada acara hari ini. Dengan berbagai alasan, termasuk Rania, akhwat yang mengirimiku BC tentang informasi acara memperingati 1Muharram -tahun baru umat Islam.
Ingin aku kabur dari mesjid ini, tapi sudah terlanjur wajah ini tertangkap oleh pandangan Umi Leli Ustazahku, dan aku pun menghampiri beliau untuk berjabat tangan. Beliau terkesan dengan kehadiranku yang masih santri baru. Kemana yang lain? Ia bertanya sambil mengedarkan pandangannya. Aku menjawab dengan penuh harapan, Mungkin belum datang Umi.
Aku sungguh tidak semangat karena tidak ada satupun teman angkatan aku yang hadir. Sungguh terlalu. Waktu 12 jam pasti akan sangat membosankan. Pandanganku selalu tertuju pada pintu masuk mesjid, mungkin saja ada orang yang aku kenal datang. Tetap sia-sia. Hati ini tidak tenang dan ada rasa menyesal. Andai saja aku tidak berangkat, pasti sudah bisa istirahat dirumah. Karena cuma hari ini dalam seminggu aku dapat beristirahat, dan aku korbankan datang ke acara yang aku tidak mengenal para anggotanya, meskipun aku termasuk santri di Lembaga Tahfis Quran ini, Tapi aku kan masih terhitung santri baru.
“Mba nunggu siapa?” sapa seorang akhwat dengan lembut dengan senyum manisnya menyapaku.
“Engga nunggu siapa2 bu” Aku menjawab cepat
“Mau tidak bantu saya membungkus Snack”
Dan dari tawaran tersebut, kami yang baru saling mengenal merasa akrab dan cocok. Aku mengenalnya, muslimah yang memiliki senyuman manis ini bernama Ibu Herni. Ternyata ia juga Ustazah tapi untuk kelas tahsin anak. Setelah kegiatan bungkus snack selesai, aku kembali meminta kegiatan lainnya. Tapi tidak ada yang bisa aku bantu. Rasa resah kembali muncul. Baru jam 8, selanjutnya 9 jam kemudian apa yang harus aku lakukan.
Aku menoleh kebelakang, ada seorang ibu setengah baya duduk sambil tilawah sendirian, ada ketenangan diwajahnya. Aku bangkit untuk bermurojaah, dan mulai mengikuti kegiatannya. Dibarisan mesjid paling depan sekelompok santriwati senior sedang mengumandangkan hafalan tilawah juz 29, hari ini adalah hari mereka diwisuda menjadi santri setelah hampir 3-5 tahun belajar di LTQ ini. Aku mulai mengikuti kegiatan ini.
Tilawah selesai 1 juz, Alhamdullilah sudah 4 jam aku disini. Aku bergegas seperti santri lainnya, mengambil air wudhu, bersiap sholat Dhuha,
“Dias” seorang akhwat menyentuh bahuku. “Alhamdullilah, Dias akhirnya kamu berhijrah juga”
Dia lantas memelukku dengan penuh kebahagiaan. Dialah putri, teman yang aku kenal sejak SD. Teman sekolahku, teman main ku. Aku ingat sekali kami sering memanjat pohon untuk mengambil buah jambu biji, kami juga sering main di sawah untuk menangkap ikan sawah yang kecil2. Aku memang sudah lupa apa nama ikan tersebut, tapi untuk sebuah nama teman kecilku bernama putri, akan selalu ku ingat. Bukan hanya putri yang aku kenal dengan baik, tapi juga keluarganya. Ternyata kak Indra, kakak pertama Putri adalah Ketua di LTQ tempat aku menuntut ilmu.
Setelah solat Zuhur, aku dan Putri duduk berdampingan. Sambil mendengarkan testimony para santri yang sudah diwisuda, kami pun bercerita mengenai kehidupan masing-masing. Terutama setelah lulus SMU saat itu kita sudah mulai lost kontak karena putri memilih pesantren. Obrolan kami terhenti saat Fatih anaknya Putri minta ditemani bermain. Tak lupa ku minta kontak BBM dan WA nya
13.00 Sendiri lagi,
Namun perasaan ini jauh lebih baik, dibandingkan beberapa jam yang lalu. Kebetulan panitia sedang mengadakan kuis dan acara permainan kecil untuk mengusir kantuk. Aku langsung ambil barisan, setelah permainan selesai, ternyata ada si ibu paruh baya yang tadi, kini duduk bersebelahan disampingku. Aku berkenalan lebih lanjut. Umurnya sudah setengah abad lebih, sudah memiliki 1 cucu, dan tempat tinggalnya lumayan jauh dari LTQ ini, dia juga sama seperti aku, tidak banyak teman angkatannya yang datang.
Kamipun berbincang, dan atas rasa penasaranku mengapa si Ibu yang rumahnya cukup jauh dari LTQ ini mau menuntut ilmu. Masya Allah ternyata dulu beliau sempat tinggal di kecamatan curug. Saya pun tak lupa menanyakan alamat beliau waktu dicurug. Ternyata ibu ini adalah ibunya teman kecilku Retno. Subhanallah, Rasanya malu sekali saya pada yang Maha Mengetahui. Ternyata teman bisa didapatkan dimana saja dan kapan saja.
Kalimat Tausiah dari ustad Indra masih terngiang, Dikutip dari hadis nabi Rasulullah saw bersabda
“Tidak berkumpul suatu koum disalah satu rumah Allah, Melainkan untuk membaca dan mempelajari kitab Allah, kecuali turun atas mereka sakinah dan rahmat, serta diliputi oleh malaikat, serta Allah sebut dihadapan (Malaikat) disisiNya”. HR MUSLIM
Ketenangan datang pada hamba yang membaca kitabnya, Subhanallah Tidak terasa acara tahun baru Hijriyah ini begitu cepat berlalu. Jika diberi kesempatan untuk mendatangi acara 1 Hari tilawah dan Murojaah, aku pasti datang. Insya Allah.

Hijrah itu mudah. Pindahkan hati yang ragu kepada ketenangan dengan hanya mendekat kepada Allah SWT. Semoga
tahun baru ini adalah awal yang indah untuk perbaikan imanku.

Selamat tahun baru ISLAM 1437 H.

Wasalam Tri_Nh