"Wanita yang memakai
Gamis serba Hitam dan bercadar adalah golongan teroris. Di sampingnya pasti selalu ada lelaki bercelana congklang. Mungkin mereka adalah satu
kelompok dengan Amrozi yang ada hubungannya dengan bom bali atau kelompok agama Islam yang sesat."
“Kamu hati2 ya sama dia, kelihatanya beneran sesat tuch anak. Lancang lagi pake tanya status.”
Aku hanya menggangguk, sambil menutup pintu kamar.
“Maafkan atas ketidaktahuan saya. 3Nh”
Saat suamiku melamarku, aku sempat ragu. Karena
sebelumnya ia selalu menuntut agar aku memakai hijab, hijab yang lebar dan
tertutup. Dan aku tidak pernah mau memakainya dengan berbagai alasan.
Penampilan, Pekerjaan, Gerah dan lainnya. Sampai akhirnya dia mengakhiri hubungan
pacaran dengan aku. Pacaran haram, seharusnya kita langsung menikah
saja, begitu katanya. Aku berkelit lagi, Menikah butuh proses, butuh perkenalan dan butuh uang. Sudahlah jangan
sok suci, Anak pak haji saja masih pacaran, itu adalah pembelaan bodohku.
1 tahun
berpacaran, aku diputusin tanpa salah
Aku mengadukan percintaanku pada
sahabat-sahabatku.
Mungkin dia
terlibat dengan Islam yang aneh sesat. Hati-hati dech sama cowo begitu.
Persis saat itu sedang musim bom dimana-mana. Umat
Islam selalu jadi terdakwa, aku mengiyakan. Pantas saja dia mendadak menjadi
sok alim. Pacarku pergi begitu saja tanpa kabar. Resmi aku menyandang gelar
jomblowati.
*****
6 bulan berlalu senyap tanpa kabarnya. Tak ada
lagi tawa ceriaku. Hanya ada tawa basa basi untuk menutupi kejenuhan. Aku
merindukan kata-katanya, sms, telpon, jasa antar jemput, bau parfum,
aku sangat merindukan dia.
Sayang, semua sudah diblokir, bbm, Facebook, no
telp pun sudah berganti. Aku sungguh kehilangan jejak. Cara terbaik untuk
mengobati rindu ini adalah membuat akun FB baru dan diam-diam menambahkan ke daftar pertemanan.
Aku membuka Foto di galerinya, lumayan bisa jadi
obat pengusir kangen. Dan aku bergeser ke beranda miliknya :
“Berusaha
sabar dan melewati hidup dengan optimis. Hanya Allah, karena Allah.. Allah
lagi, Allah terus, Allah selamanya (YM)”
“Jadiah
orang yang bermanfaat, ikhlas dalam bekerja dan selalu sabar.”
“Lelaki yang kuat adalah lelaki yang
kuat mengangkat selimut dan berjalan menuju masjid di waktu subuh.”
Dan masih banyak lagi status bijak di FBnya.
Status munafik, seolah menjadi orang yang paling bijaksana, tapi menyakiti hati
wanita dan mengakhiri hubungan begitu saja. Benar jika ada pepatah yang bilang
antara cinta dan benci memang beda tipis. Mungkin juga benar apa yang
dipikirkan oleh sahabatku.
Sungguh perasaan yang sulit, ditambah lagi dengan
dongeng indah tentang hidup sabahat-sahabatku. Tentang kehamilan, tentang pacar,
tentang suami, tentang memulai membangun
rumah tangga dan tentang debay
yang baru terlahir. Menyesakkan, seharusnya
juga aku sudah bercerita seperti mereka. Minimal bercerita tentang “dia”. Tidak
ada yang bisa ku bahas selain menjadi pendengar setia dan senyuman yang ku paksakan.
26 umurku, Oh Tuhan, sudah menjelang akhir tahun
dan aku??? Ah kisahku memang sangat kelabu, malah warnanya bisa
dikatagorikan kelam. Saat teman masa kecilku, bahkan yang dulunya adik kelasku
sudah menikah dan memiliki debay, aku malah jomblo. Sering copy darat minta kontak dari temen, beberapakali pernah mencoba menjalin hubungan dengan teman dunia Maya di dunia nyata, tapi sungguh mencari pasangan ibarat mencari jarum di dalam jerami. SULIT.
*****
“Wahai para wanita, bantu kami dalam
menundukkan pandangan sesuai ayat AnNur ayat 31 Katakanlah kepada wanita yang beriman:
"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah
mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan
hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan
perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami
mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau
saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka,
atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau
budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak
mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti
tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui
perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah,
hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung
Status FB punya dia.
X aku langsung klik menu tersebut. 10 bulan sejak
berakhir, aku masih tak mampu untuk melupakannya. Kadang mata ini selalu
berharap bisa membaca statusnya yang merindukan aku. Nihil, Bahkan tak satu pun
fotoku yang masih tersimpan di FBnya, Tak ada seberkas sisa diriku dalam
hidupnya lagi.
Menahan pandangannya
Menutup kain kudung ke dadanya
Bertobatlan kalian kepada Allah
Bagai text berita yang ada di televisi, penggalan
kalimat dari statusnya seperti berjalan di otakku. Ilmu apa yang sedang ia
pelajari, benarkan itu perintah Allah, bukankah hijab hanya untuk wanita alim?
Akhirnya kuputuskan untuk searching ilmu agama, memang selama ini aku hanya pergunakan mbah google untuk chating, update status, dan copas
untuk tugas mata kuliah.
Ternyata semua itu memang benar ada di dalam
Al-Qur'an, yang hampir tidak pernah aku baca terjemahnya. Kemanakah arah
hidupku? Masihkah menuduh dia seorang teroris? Atau mengikuti perkataannya yang
memang tercantum dalam Alquran, perkataan dari kutipan surat cinta Allah yang
tak pernah ku sentuh.
Ingin aku membuka Chat via FB dengannya. Dan
mengakui bahwa yang bernama FB Ranum Fiani adalah aku. Niatku sederhana, Hanya ingin meminta maaf, tidak
berani berharap lebih, karena aku sudah pasti bukan pilihannya, aku bukan tipe
wanita yang tercantum dalam Al-Qur'an.
*****
2 bulan di awal tahun baru berjalan lambat untuk
hidupku. Sebagian waktu istirahat di kantor, kupergunakan untuk menggali ilmu
agama. Aku sudah berhenti jadi pendengar setia, Bosan dengan cerita yang itu-itu saja, Bosan yang dibagi tidak lebih
dari tempat makan, baju, film atau tempat nongkrong. Aku sedang tidak tertarik
terlibat dengan percakapan seperti itu. Sahabat-sahabat bilang aku berubah, tak
pernah mau kumpul lagi.
Sekarang aku memang merasa asing dengan diri sendiri. Selalu ada perdebatan tentang hijab, pelarangan pacaran, dan lainnya. Aku
juga sudah berhenti copy darat atau minta dikenalin sama teman atau mencari pacar di dunia maya. Mengenai dunia
maya, tiga bulan terakhir ini aku
berhenti mengikuti statusnya. Niat sederhana untuk mengatakan maaf yang selalu
terlintas, masih belum sanggup aku katakan. Menikmati kesendirian ini, termasuk saat malam minggu, aku tidak lagi keluar untuk sekedar nongkrong
dengan teman-teman. Memilih di rumah, tepatnya berada di dalam kamar untuk
merenung.
*****
September 2012
Aku terlahir kembali, setelah melalui perdebatan
panjang dalam kesendirian. Aku memakainya, penutup kepala dan penutup pakaian. JILBAB. Semua orang
dikantor heran, dan terkejut. Ada sebagian yang mengucapkan selamat atas
hijrahnya aku. Tetes air mata ini ikut jatuh saat menerima ucapan selamat yang
diiringi doa “Semoga istoqomah dan menjadi muslim yang lebih baik.”
Masih ingat kostum pertama berhijab, aku
mengenakan ciput yang berkonde agar hijabku tersangga dengan baik. Rasanya
tidak PD kalo hijab di kepala polos tanpa konde yang menyangganya. Aku
nyaman dengan kostum seperti ini. Namun suatu waktu, tidak sengaja membaca
postingan FB Milik Abu Hanifa, ia memang aktif menyebarkan dakwah di media
sosial. Kebetulan pembahasannya mengenai hijab, jadi aku tertarik untuk
membacanya :
“Para
wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti
punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga, walaupun
baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian” (HR. Muslim no. 2128)
Itu Aku?
Benar sekali aku memakainya, karena hampir semua
toko baju memasarkan ciput berkonde. Semua ciputku yang berkonde. Bismillah,
sejak saat itu aku mulai mengulurkan hijab menutupi dada.
*****
Minggu depan Wisuda, di usiaku yang hampir 27
tahun. Terlambat memang untuk ukuran umur yang hanya Diploma 3. Aku mencoba toga yang baru
saja ku ambil dari kampus.
“Tadi temen
kamu si.. aduh siapa yach namanya, itu yang dulu nyuruh kamu pakai jilbab”
Serrr, Desir aliran darahku sangat nyata
“Tadi dia
kesini, tapi mamah ga suruh masuk, cuma diluar aja. Dia Tanya kabar kamu, Terus
minta nomor hp kamu?”
“Trus?”
suara ini hampir tak keluar dari rongga mulutku, terasa tertahan.
“Ya ga
mamah kasih, mamah bilang jangan ganggu anak saya lagi. Terus dia ninggalin
nomor HP. Tapi mamah buang ke tempat sampah.”
“…..”“Kamu hati2 ya sama dia, kelihatanya beneran sesat tuch anak. Lancang lagi pake tanya status.”
Aku hanya menggangguk, sambil menutup pintu kamar.
Berjam-jam mata ini terus terjaga, aku putuskan untuk menghadapNya, pasti akan memberikan
kedamaian. Cukup satu hal yang aku keluhkan dan resahkan yaitu aku tidak pernah
sanggup mengucapkan kata maaf. Padahal jelas sekali dalam hukum Allah bukankah
Allah tidak akan memaafkan hambanya, kecuali hambanya meminta maaf dulu kepada
sesamanya.
04.00 Pagi.“Maafkan atas ketidaktahuan saya. 3Nh”
Ku kirimkan SMS singkat padanya. Semoga saja
nomornya benar, karena sudah sangat lusuh. Setelah tahajud, aku mencari kertas
itu di berbagai tempat sampah yang ada di dalam rumah.
*****
Sepanjang bekerja hari ini aku
selalu merasa tegang, was was, dan menunggu. Tidak kutinggalkan HP ku dalam
radius yang jauh, benda itu selalu aku bawa kemana pun aku pergi, termasuk saat
buang hajat di toilet, benda itu tak pernah jauh dariku hari ini.
Tepatnya sekitar 63 Jam berlalu
dari SMS itu, perasaan ini masih sama, tidak berubah. GELISAH…. Teman kampusku
juga gelisah, sama sepertiku, via Group FB mereka sibuk dan bingung membahas
kebaya dan make up untuk wisuda yang tinggal 4 hari lagi.
Usai Makan malam, Orangtuaku
biasa berbincang di teras rumah. Aku langsung masuk kamar, melakukan kebiasaan
baru, membaca novel pembangun jiwa, Habiburahman El Shirazy, penulis novel
bergenre Islami yang secara tidak langsung aku belajar banyak tentang Islam dari
beliau.
#Maafkan bila ku tak sempurna, cinta ini tak mungkin ku cegah ….
Ku biarkan hp ku berdering,
mendadak jari ini lemah untuk menggapainya
#Maafkan bila ku tak sempurna, cinta ini tak mungkin ku cegah ….
Lagi.Berdering dari nomor yang
sama, nomor miliknya
“Asalamualaikum…”
“…salam.” suaraku menghilang hampir tak keluar, terjepit di
kerongkongan.
“Apa kabar?”
“…..” Aku malah menganggukan kepala, seolah-olah dia ada di
hadapanku, desiran aliran darah dan pompa jantung ini semakin kuat,.
“Aku juga minta maaf, sudah sok menggurui kamu.”
Alhamdullilah, akhirnya aku dimaafkan. Pasti Allah juga memaafkan
perbuatan masa lalu aku. Air mata ini langsung meleleh. Terharu, seolah diri
ini terbebas dari beban yang dipikul.
Obrolan berlanjut mengenai perihal
kedatangannya kerumah dua hari yang lalu. Awalnya saat Jumat sore, sewaktu
melihat teman adiknya membuka laptop milikku. Destopnya berlatar fotoku yang
sudah berhijab. Laptop itu memang sedang dipinjam oleh Ida untuk menyusun
skripsi. Melihat aku yang sudah berubah, dia melakukan investigasi lebih
melalui akun FBku. Nihil, aku tidak pernah posting photo dan update status
lagi, yang dulunya sering mengshare makanan, Tiket nonton, foto jalan-jalan, keluh
kesah sampai kalimat dengan kesan marah dan kasar, kini tidak ditemukan di akunku
Memang sejak berhijab, aku
memilih menjadi silent reader. Dari
akun FB asliku, dapat disimpulkan bahwa aku sudah berubah.
Telpon berdurasi kurang lebih 15 menit , diakhiri dengan
sebuah pertanyaan yang membuatku harus berpikir lebih keras.
*****
WISUDA…
Percaya dengan rahasia Allah?
Allah maha pemberi jalan keluar
bagi hambaNya yang bersandar kepadaNya. Sabtu ini aku resmi di wisuda. Dan
bonus tambahan yang Allah berikan adalah aku dilamar. Setelah berdebat panjang
dengan keluarga, aku meyakinkan mereka bahwa dia bukan teroris, dia hanya
berhijrah di jalan Allah tanpa pacaran, dan hanya ingin memiliki istri yang
sudah berhijab, karena dimata Allah, suami juga yang menanggung dosa istri di
akhirat nanti. Bukan hanya keluargaku saja, sahabat dan kerabat juga banyak
yang bertanya mengenai keyakinanku. Propaganda hijab di akhir zaman cukup
sukses menodai pola pikir umat Islam. Aku bersyukur bisa berubah menjadi muslim
yang lebih baik lagi, muslim yang bermartabat dan menaati Allah dan Rosulnya.
Alhamdullilah, tiga bulan setelah wisuda atau lamaran, aku menikah dengannya setelah satu tahun lebih
tanpa komunikasi. Kami memulai hubungan baru yang Allah halalkan.
Mengenai perjalanan hijabku,
sedang dalam proses menuju kesempurnaan hijab. Juga ilmu Islam lainnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih semoga menjadi pencerah