RABU dari jam 6 Pagi sampai dengan jam 5 sore
Kalo dihitung sekitar 12 jam.
Aku memasuki mesjid dengan Ragu. Mencari dimana teman angkatan ku kelas Tahsin
2 Level 2. Pandanganku patroli keseluruh aula mesjid, nihil tak satu pun ku
temukan teman seangkatan. Aku telp salah seorang dari mereka dan aku hubungi
beberapa melalui WA dan BBM. Dan semua yang aku hubungi tidak ada yang hadir
pada acara hari ini. Dengan berbagai alasan, termasuk Rania, akhwat yang
mengirimiku BC tentang informasi acara memperingati 1Muharram -tahun baru umat Islam.
Ingin aku kabur dari mesjid ini, tapi sudah terlanjur wajah ini tertangkap
oleh pandangan Umi Leli Ustazahku, dan aku pun menghampiri beliau untuk
berjabat tangan. Beliau terkesan dengan kehadiranku yang masih santri baru.
Kemana yang lain? Ia bertanya sambil mengedarkan pandangannya. Aku menjawab
dengan penuh harapan, Mungkin belum datang Umi.
Aku sungguh tidak semangat karena tidak ada satupun teman angkatan aku yang
hadir. Sungguh terlalu. Waktu 12 jam pasti akan sangat
membosankan. Pandanganku selalu tertuju pada pintu masuk mesjid,
mungkin saja ada orang yang aku kenal datang. Tetap sia-sia. Hati ini tidak
tenang dan ada rasa menyesal. Andai saja aku tidak berangkat, pasti sudah bisa
istirahat dirumah. Karena cuma hari ini dalam
seminggu aku dapat beristirahat, dan aku korbankan datang ke acara yang aku tidak mengenal para anggotanya, meskipun aku termasuk santri
di Lembaga Tahfis Quran ini, Tapi aku kan masih terhitung santri baru.
“Mba nunggu siapa?” sapa seorang akhwat dengan lembut dengan senyum
manisnya menyapaku.
“Engga nunggu siapa2 bu” Aku menjawab cepat
“Mau tidak bantu saya membungkus Snack”
Dan dari tawaran tersebut, kami yang baru saling mengenal merasa akrab dan
cocok. Aku mengenalnya, muslimah yang memiliki senyuman manis ini bernama Ibu
Herni. Ternyata ia juga Ustazah tapi untuk kelas tahsin anak. Setelah kegiatan
bungkus snack selesai, aku kembali meminta kegiatan lainnya. Tapi tidak ada
yang bisa aku bantu. Rasa resah kembali muncul. Baru jam 8, selanjutnya 9 jam
kemudian apa yang harus aku lakukan.
Aku menoleh kebelakang, ada seorang ibu setengah baya duduk sambil tilawah
sendirian, ada ketenangan diwajahnya. Aku bangkit untuk bermurojaah, dan mulai
mengikuti kegiatannya. Dibarisan mesjid paling depan sekelompok santriwati
senior sedang mengumandangkan hafalan tilawah juz 29, hari ini adalah hari
mereka diwisuda menjadi santri setelah hampir 3-5 tahun belajar di LTQ ini. Aku
mulai mengikuti kegiatan ini.
Tilawah selesai 1 juz, Alhamdullilah sudah 4 jam aku disini. Aku bergegas
seperti santri lainnya, mengambil air wudhu, bersiap sholat Dhuha,
“Dias” seorang akhwat menyentuh bahuku.
“Alhamdullilah, Dias akhirnya kamu berhijrah juga”
Dia lantas memelukku dengan penuh kebahagiaan. Dialah putri, teman yang aku
kenal sejak SD. Teman sekolahku, teman main ku. Aku ingat sekali kami sering
memanjat pohon untuk mengambil buah jambu biji, kami juga sering main di sawah
untuk menangkap ikan sawah yang kecil2. Aku memang sudah lupa apa nama ikan
tersebut, tapi untuk sebuah nama teman kecilku bernama putri, akan selalu ku
ingat. Bukan hanya putri yang aku kenal dengan baik, tapi juga keluarganya.
Ternyata kak Indra, kakak pertama Putri adalah Ketua di LTQ
tempat aku menuntut ilmu.
Setelah solat Zuhur, aku dan Putri duduk berdampingan. Sambil
mendengarkan testimony para santri yang
sudah diwisuda, kami pun bercerita mengenai kehidupan masing-masing. Terutama
setelah lulus SMU saat itu kita sudah mulai lost
kontak karena putri memilih pesantren. Obrolan kami terhenti saat Fatih anaknya
Putri minta ditemani bermain. Tak lupa ku minta kontak BBM dan WA nya
13.00 Sendiri lagi,
Namun perasaan ini jauh lebih baik, dibandingkan beberapa jam yang lalu.
Kebetulan panitia sedang mengadakan kuis dan acara permainan kecil untuk
mengusir kantuk. Aku langsung ambil barisan, setelah permainan selesai,
ternyata ada si ibu paruh baya yang tadi, kini duduk
bersebelahan disampingku. Aku berkenalan lebih lanjut. Umurnya sudah setengah
abad lebih, sudah memiliki 1 cucu, dan tempat tinggalnya lumayan jauh dari LTQ
ini, dia juga sama seperti aku, tidak banyak teman angkatannya yang datang.
Kamipun berbincang, dan atas rasa penasaranku mengapa si Ibu yang rumahnya
cukup jauh dari LTQ ini mau menuntut ilmu. Masya Allah ternyata dulu beliau
sempat tinggal di kecamatan curug. Saya pun tak lupa menanyakan alamat beliau
waktu dicurug. Ternyata ibu ini adalah ibunya teman kecilku Retno. Subhanallah,
Rasanya malu sekali saya pada yang Maha Mengetahui. Ternyata teman bisa
didapatkan dimana saja dan kapan saja.
Kalimat Tausiah dari ustad Indra masih terngiang, Dikutip dari hadis
nabi Rasulullah saw bersabda
“Tidak berkumpul suatu koum disalah satu
rumah Allah, Melainkan untuk membaca dan mempelajari kitab Allah, kecuali turun atas mereka sakinah dan rahmat, serta diliputi oleh malaikat, serta Allah sebut dihadapan (Malaikat) disisiNya”. HR MUSLIM
Ketenangan datang pada
hamba yang membaca kitabnya, Subhanallah Tidak terasa acara tahun baru Hijriyah ini begitu cepat berlalu. Jika diberi kesempatan untuk mendatangi acara 1
Hari tilawah dan Murojaah, aku pasti datang. Insya Allah.
Hijrah itu mudah. Pindahkan hati yang ragu kepada ketenangan dengan hanya mendekat kepada Allah SWT. Semoga tahun baru ini adalah awal yang indah untuk perbaikan imanku.
Selamat tahun baru ISLAM 1437 H.
Hijrah itu mudah. Pindahkan hati yang ragu kepada ketenangan dengan hanya mendekat kepada Allah SWT. Semoga tahun baru ini adalah awal yang indah untuk perbaikan imanku.
Selamat tahun baru ISLAM 1437 H.
Wasalam Tri_Nh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih semoga menjadi pencerah