Arsip Blog

Sabtu, 04 Juli 2015

Cahaya MU


Melewati Acara TV sore kali ini aku hanya dengarkan sambil memasak menu buka puasa, untuk suami ku tercinta. Tapi begitu  aku dengar ada juri yang memberikan komentar kepada seorang anak kecil yang mengikuti lomba Hafiz Quran. Aku jadi penasaran, sekecil apakah anak itu.
Dan Masya Allah, aku dengar umurnya kurang dari 7 Tahun. Beliau sudah hafal sampai 29 JUZ.
Aku menetapkan diri untuk duduk di depan televisi. Aku hentikan sesaat kegiatan potong memotong sayuran yang ada didapur. Rasanya diri ini ikut hanyut dalam pujian2 yang di lontarkan Juri dan para penonton lainnya. Pikiranku jadi melayang ke beberapa tahun belakang. Saat itu umur ku juga tak jauh dari umurnya. Kegiatan kami juga sama, sewaktu masih kecil aku sudah mulai belajar mengaji.

Sejak masih sekolah SD ibu ku selalu menyuruh ku belajar mengaji. Aku masih ingat guru pertamaku saat itu bernama Mba Muliah, waktu itu aku kelas 2 SD. Saat Rumah ku pindah ke Curug, Guru ngajiku ku juga berbeda lagi, Kali ini aku belajar di TPA, Aku berhenti mengaji di TPA karena jauh. Berhenti dari TPA aku mengaji ke tetanggaku Ibu IDA, sampai akhirnya aku Khatam Juz Amma.  Dan Terakhir aku mengaji Al Quran dengan Ibu Ami yang juga masih tetanggaku, sampai akhirnya aku Khatam.

Menurut tradisi saat itu, orang yang Khatam Quran dibuatkan pengajian. Maka Ibu ku pun demikian. Beliau mengundang tetangga2 untuk acara Khatam Quran. Semua orang mendoakan agar aku bisa menjadi generasi cinta Alquran. Mata ibuku berbinar penuh kebanggaan, saat aku mengaji di hadapan Khalayak ramai. Sungguh masa kecil yang gemilang.

Tak terasa air mata sudah berurai dan detak jantung ini lebih cepat dari pada saat aku bekerja didapur tadi. Gusti Allah, mohon ampuni kesalahan dan kehilafan hamba. Hanya itu kata – kata yang aku ingat saat itu.
Kini Tidak ada bekas tanda tanda keberhasilan dalam cahaya Alquran di diriku yang sekarang. Jangan kan Al Quran, Juz amah pun aku tidak hafal. Mungkin hanya hafal beberapa surat saja. Jika solat fardu yang dibaca hanya surat yang itu2 saja.

Apakah Allah bosan mendengar solatku yang monoton? Hanya surat surat andalan seperti Al Ikhlas, An Nas, Al falaq, dan sejauh-jauhnya hafalan adalah surat Al takatsur. Jika Allah adalah bos ku di kantor, mungkin aku sudah masuk kedalam karyawan Grade C yang tinggal menunggu giliran untuk di PHK karena tidak credible dan bukan merupakan asset perusahaan, tidak memiliki prestasi apapun dan memiliki kinerja yang sangat buruk. Aku merinding memikirkan waktu yang tidak aku gunakan dengan baik.
Penasaran, ada berapa surat yang sudah aku hafal, Aku langsung ambil Juz Ammah, dan menghitung satu demi satu yang menurut aku hafal, dan Masa Allah, aku hanya bisa menghafal sebanyak 12 surat dan tidak termasuk dengan bacaan tajwid yang benar.

Aku makin mengutuki diriku, bahkan untuk 1 surat cinta Allah, yang panjangnya hanya 9-20 ayat seperti surat Al Adiyat, Albainah dan Al Alaq, tidak bisa aku hafal dengan baik. Untuk apakah waktuku selama ini. Yang usiaku sudah hampir 30tahun dan dari masa pubertas sampai dengan sekarang sudah 20 Tahun.
Aku hitung dari masa pubertas, karena dari masa itu, kewajiban yang Allah berikan harus sudah mulai dijalankan dan akan terhitung dosa jika ada yang ditinggalkan. Masa Allah. Sore itu aku tidak sanggup lagi untuk melanjutkan aktifitasku memasak didapur. Aku mulai membuka surat Al Adiyat, Alzazalah dan Albainah terakhir aku membaca sampai Al Lail. Memori  masa kecilku yang tersimpan di drive D langsung terbuka. Betapa nikmatnya setiap pulang mengaji sambil menyantap cemilan yang dibuat oleh ibuku, Kami –aku dan kakaku bercerita dengan ilmu yang kami dapatkan. ibuku menyambut ku dengan berbagai pertanyaan seputar belajar Al Quran. Kami menjawab dengan gaya seperti ustazah cilik. Menjelaskan Mad dan  Izhar dan lain sebagainya. Ibu ku yang kurang paham hanya menggangguk dan lambat laun Alhamdullilah Beliau memiliki semangat untuk belajar mengaji ke ibu Hajah Resti, dengan terbata-bata dan bermodalkan semangat.

Aku masih diberi kesempatan oleh Allah untuk belajar mengaji, Doa ku pada sore hari ini adalah: Allah jika aku menghafal ayat2 mu khususnya di Juz 30, mohon berilah pahala untuk Ibu ku tercinta, untuk ustazah2ku yang selalu menyemangati kami, dan berilah pahala serta kemudahan kepada almarhum kakaku dan ringankanlah siksa kuburnya. Karena dulu ia adalah temanku mengaji. Kami melangkah bersama mencari ilmu. Walaupun kehujanan, mati lampu kami tetap melangkah dengan penuh semangat menuju cahaya Islam Mu.

dan Semoga Doa yang telah dibuat oleh Ayah Ibuku bisa melekat seumur hidup dalam diriku menjadi Cahaya Hidup.
"Tri NURHAYATI"

Rabu, 01 Juli 2015

Cita Cita Abadi


Aku tidak berharap dengan Gaji Besar dan menjadi pemimpin disuatu divisi perusahaan. Walaupun ada beberapa orang yang menahan ku untuk bertahan. Demi Allah saat ini aku sudah berhenti bercita-cita menjadi wanita karir seperti impianku dulu dan sudah aku rasakan dalam beberapa tahun di sini. Aku ingin menjadi pemimpin untuk anak2 aku, Aku ingin menjadi seorang ibu yang bisa menuntun mereka kepada cahaya Islam. Aku ingin berhenti bergunjing dan mengeluh dalam menjalankan tugasku saat bekerja. Aku ingin ikhlas. Itulah alasanku untuk berhenti dari pekerjaan ku 

Kadang aku sedih saat ingin berangkat kerja, aku belum menyiapkan pakaian untuk suamiku. Menyiapkan sarapan pun kadang keteter oleh waktu, dikarenakan kondisiku yang sudah cukup tersita di kantor. Mungkin ini juga alasan Allah belum memberiku keturunan, karena aku terlalu fokus pada dunia hingga merasa sangat lelah mencari Ilmu dan Karir serta gaji diperusahaan

Ilmu dan Prestasi yang sudah kudapatkan ini biarlah hanya untuk aku dan keluarga kecilku saja. Jika suatu hari nanti Allah izinkan aku untuk memiliki sebuah usaha, Aku ingin memiliki rumah makan. Dan dengan pengalamanku dibidang Konsultan Accounting, biarlah aku interprestasikan didalam bisnis ku. Dengan ilmu dibangku kuliah, aku ingin mendidik anak2ku menjadi Juara Kelas dan no satu disekolahnya. Dan terakhir yang paling penting adalah dengan belajar di LTQ sebuah Lembaga Tahsin Quran Ibaddurahman aku ingin bisa Tallaqi dan menghafal Quran. Insya Allah aku bisa mengajarkan cahaya Islamku pada anak2ku kelak.


Allah, aku ingin lebih sabar dengan berzikir dan memohon padamu dengan ketenangan, aku ingin bisa menjawab lebih santun dan legowo tentang mereka yang sudah tak sabar menunggu kehadiran buah hati kami. Tanpa rasa tersinggung, tanpa rasa marah ataupun sedih. Aku hanya ingin ikhlas saja, mudah2an itu lebih dari cukup untuk menjadikan aku wanita yang lebih  baik dimataMu..