Arsip Blog

Senin, 02 November 2015

MUHARRAM : HIJRAH



RABU dari jam 6 Pagi sampai dengan jam 5 sore
Kalo dihitung sekitar 12 jam.
Aku memasuki mesjid dengan Ragu. Mencari dimana teman angkatan ku kelas Tahsin 2 Level 2. Pandanganku patroli keseluruh aula mesjid, nihil tak satu pun ku temukan teman seangkatan. Aku telp salah seorang dari mereka dan aku hubungi beberapa melalui WA dan BBM. Dan semua yang aku hubungi tidak ada yang hadir pada acara hari ini. Dengan berbagai alasan, termasuk Rania, akhwat yang mengirimiku BC tentang informasi acara memperingati 1Muharram -tahun baru umat Islam.
Ingin aku kabur dari mesjid ini, tapi sudah terlanjur wajah ini tertangkap oleh pandangan Umi Leli Ustazahku, dan aku pun menghampiri beliau untuk berjabat tangan. Beliau terkesan dengan kehadiranku yang masih santri baru. Kemana yang lain? Ia bertanya sambil mengedarkan pandangannya. Aku menjawab dengan penuh harapan, Mungkin belum datang Umi.
Aku sungguh tidak semangat karena tidak ada satupun teman angkatan aku yang hadir. Sungguh terlalu. Waktu 12 jam pasti akan sangat membosankan. Pandanganku selalu tertuju pada pintu masuk mesjid, mungkin saja ada orang yang aku kenal datang. Tetap sia-sia. Hati ini tidak tenang dan ada rasa menyesal. Andai saja aku tidak berangkat, pasti sudah bisa istirahat dirumah. Karena cuma hari ini dalam seminggu aku dapat beristirahat, dan aku korbankan datang ke acara yang aku tidak mengenal para anggotanya, meskipun aku termasuk santri di Lembaga Tahfis Quran ini, Tapi aku kan masih terhitung santri baru.
“Mba nunggu siapa?” sapa seorang akhwat dengan lembut dengan senyum manisnya menyapaku.
“Engga nunggu siapa2 bu” Aku menjawab cepat
“Mau tidak bantu saya membungkus Snack”
Dan dari tawaran tersebut, kami yang baru saling mengenal merasa akrab dan cocok. Aku mengenalnya, muslimah yang memiliki senyuman manis ini bernama Ibu Herni. Ternyata ia juga Ustazah tapi untuk kelas tahsin anak. Setelah kegiatan bungkus snack selesai, aku kembali meminta kegiatan lainnya. Tapi tidak ada yang bisa aku bantu. Rasa resah kembali muncul. Baru jam 8, selanjutnya 9 jam kemudian apa yang harus aku lakukan.
Aku menoleh kebelakang, ada seorang ibu setengah baya duduk sambil tilawah sendirian, ada ketenangan diwajahnya. Aku bangkit untuk bermurojaah, dan mulai mengikuti kegiatannya. Dibarisan mesjid paling depan sekelompok santriwati senior sedang mengumandangkan hafalan tilawah juz 29, hari ini adalah hari mereka diwisuda menjadi santri setelah hampir 3-5 tahun belajar di LTQ ini. Aku mulai mengikuti kegiatan ini.
Tilawah selesai 1 juz, Alhamdullilah sudah 4 jam aku disini. Aku bergegas seperti santri lainnya, mengambil air wudhu, bersiap sholat Dhuha,
“Dias” seorang akhwat menyentuh bahuku. “Alhamdullilah, Dias akhirnya kamu berhijrah juga”
Dia lantas memelukku dengan penuh kebahagiaan. Dialah putri, teman yang aku kenal sejak SD. Teman sekolahku, teman main ku. Aku ingat sekali kami sering memanjat pohon untuk mengambil buah jambu biji, kami juga sering main di sawah untuk menangkap ikan sawah yang kecil2. Aku memang sudah lupa apa nama ikan tersebut, tapi untuk sebuah nama teman kecilku bernama putri, akan selalu ku ingat. Bukan hanya putri yang aku kenal dengan baik, tapi juga keluarganya. Ternyata kak Indra, kakak pertama Putri adalah Ketua di LTQ tempat aku menuntut ilmu.
Setelah solat Zuhur, aku dan Putri duduk berdampingan. Sambil mendengarkan testimony para santri yang sudah diwisuda, kami pun bercerita mengenai kehidupan masing-masing. Terutama setelah lulus SMU saat itu kita sudah mulai lost kontak karena putri memilih pesantren. Obrolan kami terhenti saat Fatih anaknya Putri minta ditemani bermain. Tak lupa ku minta kontak BBM dan WA nya
13.00 Sendiri lagi,
Namun perasaan ini jauh lebih baik, dibandingkan beberapa jam yang lalu. Kebetulan panitia sedang mengadakan kuis dan acara permainan kecil untuk mengusir kantuk. Aku langsung ambil barisan, setelah permainan selesai, ternyata ada si ibu paruh baya yang tadi, kini duduk bersebelahan disampingku. Aku berkenalan lebih lanjut. Umurnya sudah setengah abad lebih, sudah memiliki 1 cucu, dan tempat tinggalnya lumayan jauh dari LTQ ini, dia juga sama seperti aku, tidak banyak teman angkatannya yang datang.
Kamipun berbincang, dan atas rasa penasaranku mengapa si Ibu yang rumahnya cukup jauh dari LTQ ini mau menuntut ilmu. Masya Allah ternyata dulu beliau sempat tinggal di kecamatan curug. Saya pun tak lupa menanyakan alamat beliau waktu dicurug. Ternyata ibu ini adalah ibunya teman kecilku Retno. Subhanallah, Rasanya malu sekali saya pada yang Maha Mengetahui. Ternyata teman bisa didapatkan dimana saja dan kapan saja.
Kalimat Tausiah dari ustad Indra masih terngiang, Dikutip dari hadis nabi Rasulullah saw bersabda
“Tidak berkumpul suatu koum disalah satu rumah Allah, Melainkan untuk membaca dan mempelajari kitab Allah, kecuali turun atas mereka sakinah dan rahmat, serta diliputi oleh malaikat, serta Allah sebut dihadapan (Malaikat) disisiNya”. HR MUSLIM
Ketenangan datang pada hamba yang membaca kitabnya, Subhanallah Tidak terasa acara tahun baru Hijriyah ini begitu cepat berlalu. Jika diberi kesempatan untuk mendatangi acara 1 Hari tilawah dan Murojaah, aku pasti datang. Insya Allah.

Hijrah itu mudah. Pindahkan hati yang ragu kepada ketenangan dengan hanya mendekat kepada Allah SWT. Semoga
tahun baru ini adalah awal yang indah untuk perbaikan imanku.

Selamat tahun baru ISLAM 1437 H.

Wasalam Tri_Nh

Sabtu, 04 Juli 2015

Cahaya MU


Melewati Acara TV sore kali ini aku hanya dengarkan sambil memasak menu buka puasa, untuk suami ku tercinta. Tapi begitu  aku dengar ada juri yang memberikan komentar kepada seorang anak kecil yang mengikuti lomba Hafiz Quran. Aku jadi penasaran, sekecil apakah anak itu.
Dan Masya Allah, aku dengar umurnya kurang dari 7 Tahun. Beliau sudah hafal sampai 29 JUZ.
Aku menetapkan diri untuk duduk di depan televisi. Aku hentikan sesaat kegiatan potong memotong sayuran yang ada didapur. Rasanya diri ini ikut hanyut dalam pujian2 yang di lontarkan Juri dan para penonton lainnya. Pikiranku jadi melayang ke beberapa tahun belakang. Saat itu umur ku juga tak jauh dari umurnya. Kegiatan kami juga sama, sewaktu masih kecil aku sudah mulai belajar mengaji.

Sejak masih sekolah SD ibu ku selalu menyuruh ku belajar mengaji. Aku masih ingat guru pertamaku saat itu bernama Mba Muliah, waktu itu aku kelas 2 SD. Saat Rumah ku pindah ke Curug, Guru ngajiku ku juga berbeda lagi, Kali ini aku belajar di TPA, Aku berhenti mengaji di TPA karena jauh. Berhenti dari TPA aku mengaji ke tetanggaku Ibu IDA, sampai akhirnya aku Khatam Juz Amma.  Dan Terakhir aku mengaji Al Quran dengan Ibu Ami yang juga masih tetanggaku, sampai akhirnya aku Khatam.

Menurut tradisi saat itu, orang yang Khatam Quran dibuatkan pengajian. Maka Ibu ku pun demikian. Beliau mengundang tetangga2 untuk acara Khatam Quran. Semua orang mendoakan agar aku bisa menjadi generasi cinta Alquran. Mata ibuku berbinar penuh kebanggaan, saat aku mengaji di hadapan Khalayak ramai. Sungguh masa kecil yang gemilang.

Tak terasa air mata sudah berurai dan detak jantung ini lebih cepat dari pada saat aku bekerja didapur tadi. Gusti Allah, mohon ampuni kesalahan dan kehilafan hamba. Hanya itu kata – kata yang aku ingat saat itu.
Kini Tidak ada bekas tanda tanda keberhasilan dalam cahaya Alquran di diriku yang sekarang. Jangan kan Al Quran, Juz amah pun aku tidak hafal. Mungkin hanya hafal beberapa surat saja. Jika solat fardu yang dibaca hanya surat yang itu2 saja.

Apakah Allah bosan mendengar solatku yang monoton? Hanya surat surat andalan seperti Al Ikhlas, An Nas, Al falaq, dan sejauh-jauhnya hafalan adalah surat Al takatsur. Jika Allah adalah bos ku di kantor, mungkin aku sudah masuk kedalam karyawan Grade C yang tinggal menunggu giliran untuk di PHK karena tidak credible dan bukan merupakan asset perusahaan, tidak memiliki prestasi apapun dan memiliki kinerja yang sangat buruk. Aku merinding memikirkan waktu yang tidak aku gunakan dengan baik.
Penasaran, ada berapa surat yang sudah aku hafal, Aku langsung ambil Juz Ammah, dan menghitung satu demi satu yang menurut aku hafal, dan Masa Allah, aku hanya bisa menghafal sebanyak 12 surat dan tidak termasuk dengan bacaan tajwid yang benar.

Aku makin mengutuki diriku, bahkan untuk 1 surat cinta Allah, yang panjangnya hanya 9-20 ayat seperti surat Al Adiyat, Albainah dan Al Alaq, tidak bisa aku hafal dengan baik. Untuk apakah waktuku selama ini. Yang usiaku sudah hampir 30tahun dan dari masa pubertas sampai dengan sekarang sudah 20 Tahun.
Aku hitung dari masa pubertas, karena dari masa itu, kewajiban yang Allah berikan harus sudah mulai dijalankan dan akan terhitung dosa jika ada yang ditinggalkan. Masa Allah. Sore itu aku tidak sanggup lagi untuk melanjutkan aktifitasku memasak didapur. Aku mulai membuka surat Al Adiyat, Alzazalah dan Albainah terakhir aku membaca sampai Al Lail. Memori  masa kecilku yang tersimpan di drive D langsung terbuka. Betapa nikmatnya setiap pulang mengaji sambil menyantap cemilan yang dibuat oleh ibuku, Kami –aku dan kakaku bercerita dengan ilmu yang kami dapatkan. ibuku menyambut ku dengan berbagai pertanyaan seputar belajar Al Quran. Kami menjawab dengan gaya seperti ustazah cilik. Menjelaskan Mad dan  Izhar dan lain sebagainya. Ibu ku yang kurang paham hanya menggangguk dan lambat laun Alhamdullilah Beliau memiliki semangat untuk belajar mengaji ke ibu Hajah Resti, dengan terbata-bata dan bermodalkan semangat.

Aku masih diberi kesempatan oleh Allah untuk belajar mengaji, Doa ku pada sore hari ini adalah: Allah jika aku menghafal ayat2 mu khususnya di Juz 30, mohon berilah pahala untuk Ibu ku tercinta, untuk ustazah2ku yang selalu menyemangati kami, dan berilah pahala serta kemudahan kepada almarhum kakaku dan ringankanlah siksa kuburnya. Karena dulu ia adalah temanku mengaji. Kami melangkah bersama mencari ilmu. Walaupun kehujanan, mati lampu kami tetap melangkah dengan penuh semangat menuju cahaya Islam Mu.

dan Semoga Doa yang telah dibuat oleh Ayah Ibuku bisa melekat seumur hidup dalam diriku menjadi Cahaya Hidup.
"Tri NURHAYATI"

Rabu, 01 Juli 2015

Cita Cita Abadi


Aku tidak berharap dengan Gaji Besar dan menjadi pemimpin disuatu divisi perusahaan. Walaupun ada beberapa orang yang menahan ku untuk bertahan. Demi Allah saat ini aku sudah berhenti bercita-cita menjadi wanita karir seperti impianku dulu dan sudah aku rasakan dalam beberapa tahun di sini. Aku ingin menjadi pemimpin untuk anak2 aku, Aku ingin menjadi seorang ibu yang bisa menuntun mereka kepada cahaya Islam. Aku ingin berhenti bergunjing dan mengeluh dalam menjalankan tugasku saat bekerja. Aku ingin ikhlas. Itulah alasanku untuk berhenti dari pekerjaan ku 

Kadang aku sedih saat ingin berangkat kerja, aku belum menyiapkan pakaian untuk suamiku. Menyiapkan sarapan pun kadang keteter oleh waktu, dikarenakan kondisiku yang sudah cukup tersita di kantor. Mungkin ini juga alasan Allah belum memberiku keturunan, karena aku terlalu fokus pada dunia hingga merasa sangat lelah mencari Ilmu dan Karir serta gaji diperusahaan

Ilmu dan Prestasi yang sudah kudapatkan ini biarlah hanya untuk aku dan keluarga kecilku saja. Jika suatu hari nanti Allah izinkan aku untuk memiliki sebuah usaha, Aku ingin memiliki rumah makan. Dan dengan pengalamanku dibidang Konsultan Accounting, biarlah aku interprestasikan didalam bisnis ku. Dengan ilmu dibangku kuliah, aku ingin mendidik anak2ku menjadi Juara Kelas dan no satu disekolahnya. Dan terakhir yang paling penting adalah dengan belajar di LTQ sebuah Lembaga Tahsin Quran Ibaddurahman aku ingin bisa Tallaqi dan menghafal Quran. Insya Allah aku bisa mengajarkan cahaya Islamku pada anak2ku kelak.


Allah, aku ingin lebih sabar dengan berzikir dan memohon padamu dengan ketenangan, aku ingin bisa menjawab lebih santun dan legowo tentang mereka yang sudah tak sabar menunggu kehadiran buah hati kami. Tanpa rasa tersinggung, tanpa rasa marah ataupun sedih. Aku hanya ingin ikhlas saja, mudah2an itu lebih dari cukup untuk menjadikan aku wanita yang lebih  baik dimataMu..

Senin, 16 Maret 2015

Yakinlah Allah Maha Mendengar.



Yakinlah Allah Maha Mendengar.
Sewaktu perjalanan pulang, saya dan suami pergi ke Lippo untuk cari barang, saya bilang cape kalo tiap hari harus pergi. Dan suami saya mengingatkan saya akan keinginan saya yang selalu saya keluhkan dulu.

Saya diam, Demi Allah saya baru ingat, bahwa apa yang sedang saya jalani ini adalah keinginan saya dulu. Ternyata Allah mencatat dan mengabulkannya disaat hambanya sudah lupa. Dan dari hal itu, saya mencoba mengingat2 doa yang sudah Allah kabulkan.

Allah memang tahu kapan waktu yang tepat untuk  memberikan yang hambanya minta. Dan bahkan selalu memberi lebih dari yang kita inginkan. Sampai kita mengeluhkan hal yang sama. Manusia memang terkadang lupa bersuykur.
Beginilah keinginan dan keluhan saya yang selalu saya curahkan ;

2003Dulu saya amat ingin kuliah, saya ingin pintar dan memiliki gelar, saya ingin membuat orang tua saya bangga. Bukan hanya bekerja sebagai seorang kasir saja, saya ingin lebih dari itu
Akhirnya tahun 2008, saya menjadi mahasiswa Tahun 2010 saya pertama kali kerja sebagai staff di triona.

2008 Dulu saya memiliki pacar yang kurang iman, tidak kuliah dan memiliki pekerjaan yang biasa. Setelah 3.5 tahun berpacaran akhirnya kami putuskan untuk berpisah. Saya selalu berdoa, agar memiliki pendamping hidup yang lebih baik atau sama dengan saya dalam hal pendidikan, Pengetahuan Agama dan Pekerjaan, Tidak lebih buruk dari saya
Beberapa tahun kemudian. 2011 sewaktu kuliah semester akhir, saya berkenalan dengan Rochman dan akhirnya dia bisa menjadi suami seperti impian saya dulu. Beriman, Pernah Kuliah dan memiliki pekerjaan yang baik. Dan karena perantaranya, saya memakai Hijab

2009Dulu saya pernah nganggur, sewaktu kuliah. Sementara orang tua saya tidak bisa membantu
 dan saat nganggur itulah saya mendapat bea siswa dari kampus.

 2010 Dulu saya pernah jomblo, saya sering merasa sedih jika teman saya bercerita tentang pacarnya, suaminya atau keluarga kecilnya. Karena diumur saya yang sudah 25+, (kuliah terlambat, jomblo, pekerjaan hanya admin) seharusnya juga sudah merasakan hal yang mereka rasakan
Akhirnya 2 Tahun kemudian, tanggal 29 Des 2012 saya wisuda dan dihari yang sama, saya juga melangsungkan lamaran yang disakikan oleh teman2, keluarga, tetangga. Hari itu saya lulus kuliah dan tidak jomblo lagi

2010 Dulu saya bekerja sebagai admin, saya bosan mengerjakan pekerjaan yang itu itu saja. Saya berharap suatu saat nanti saya bisa menjadi bagian penting di tempat kerja saya
Dulu waktu baru lulus kuliah, saya ingin sekali mencari pengalaman dan mengaplikasikan ilmu yang saya miliki ditempat kerja
Dulu saya merasa iri dengan atasan saya, yang hanya lulusan SMU tapi bisa menjadi Supervisor saya dan sepertinya sangat di sayang oleh manager,  Enaknya jadi orang penting
Akhirnya 3 Tahun kemudian, tanggal 11 April 2013 saya putuskan untuk pindah ke PT Gajah Putih elastic. Saya ikut konsultan merancang program dan baru saya dan IT yang tahu bagaimana cara menjalankan semua ini. Saat saya bosan dan jenuh bekerja, saya mengajukan resign, Tapi nasib saya sama seperti aatasan saya dulu, saya malah dinaikan gaji Sekarang saya malah bingung untuk berhenti dari pekerjaan ini. Karena ada yang memerlukan tenaga saya. Disaat saya dihargai dalam hal karir saya malah ingin berhenti bekerja. begitulah, manusia tidak pernah merasa puas.
Dulu saya selalu berharap ingin memiliki penghasilan yang besar dan bisa membantu keluarga dan sesama muslim
Kebetulan keluarga kami menerima cobaan, tepat disaat saya mengalami kenaikan gaji. Alhamdulilah saya dapat membantu keluarga saya, membeli susu untuk rihha, dan memberi bantuan lainnya. Allah Tahu kapan hambanya membutuhkan rezeki yang banyak.

Dulu saya memiliki kaka yang sangat baik, kami seperti seorang teman, seperti ibu dan anak, seperti kakak dan adik. Ia adalah paket complicated dalam hidupku. Tapi kini dia sudah meninggal.
Dan ternyata sebelum ia meninggal, Allah telah mencarikan penggantinya untuk menemani hidup saya nantinya. Dialah Rochman. Selang 6 bulan kami menikah, Kakaku tercinta meninggal. Allah adalah Maha Berencana.

Dulu sewaktu di awal pernikahan sekitar tahun 2013,saya  merasa bosan jika hari libur selalu dirumah. Saya sering merengek minta jalan2, ke mall sekedar cuci mata atau kemanapun. Pokoknya saya ingin refreshing.
Dan sekarang Tahun 2015 saya baru merasakan, Lelah sekali dan sangat bosan pergi.  Karena apa, hampir tiap hari suami saya belanja Handpone ke Lippo atau mencari Laptop ke Tangerang, Atau mengantar Pesanan HP ke customernya.Sekarang saya hanya ingin istirahat dirumah menikmati masa libur.

dan masih banyak lagi nikmat Allah yang tidak pernah cukup untuk saya tuliskan.