Artinya bebas tidak berpuasa lagi, punya baju baru dan dapet banyak amplop.
Perasaanku sungguh sangat bahagia luar biasa bisa berkumpul dengan keluarga besar dan makan masakan mamah yang sangat lezat.
Kegiatan lebaran yang paling sibuk adalah, menghitung uang THR dari mama, kakak, tamu bapak, tetangga dan banyak lagi.
Lalu sibuk membuat cash flow, mau buat apa saja uangnya.
Lebaranku saat ABG menjelang dewasa.
Sudah mulai berkurang yang memberi amplop. Bedanya setiap amplop nominalnya besar.
Perasaanku sangat senang bisa libur lebaran, bisa jalan sama teman.
Kegiatan lebaran yang paling sibuk adalah, membantu mama bersih-bersih perabotan dapur. Dan berantem sama kakak karena sering disuruh-suruh.
Lebaranku saat dewasa dan masih single.
Dari sisi keuangan, jelas hampir tidak ada yang memberi. Tapi tak apa, justru kini saatnya berbagi pada orang tua, ponakan juga adik-adik. Kebiasaannya yang berbeda Cash Flow dibuat sebelum lebaran.
Untungnya setelah lulus sekolah, sudah bekerja. Tapi suasana saat kumpul keluarga atau kerabat dan tetangga, mulai terasa perbedaan strata sosialnya. Khususnya pertanyaan "kapan". Tidak apa, namanya juga jarang ketemu, mau bahas apa lagi buat bahan basa-basi. Namun dibalik pertanyaan "kapan" terselip banyak hal yang membandingkan nasibku dengan orang yang usianya sepantaran denganku.
Kegiatan lebaran yang paling sibuk, adalah bersih-bersih rumah dan dapur. Selebihnya nongkrong bareng temen, halal bihalal.
Lebaranku saat sudah menikah 1-3 tahun
Alhamdulillah punya keluarga baru dan suasana baru. Masih semangat-semangatnya PDKT dengan keluarga suami, terutama mertua. List jatah pembagian uang THR pun bertambah banyak. Waktu libur lebaran harus dibagi. Beberapa hari di Yogya tempat nenek, beberapa hari di rumah mertua, dan beberapa hari di rumah ortuku, juga sisakan waktu untuk lingkungan rumahku. Namun jatah libur terlama adalah berada dirumah mertua.
Lebaranku saat sudah menikah 4-6 tahun.
Mulai introspeksi diri, semoga tahun depan kita bisa bertemu Ramadhan dan Syawal. Mulai ada keluarga yang dirindukan tapi tak dapat bertemu selamanya.
Kedua orang tua sudah sepuh, aku hampir tidak pernah berlebaran bersama mama bapak dihari lebaran, karena mengikuti suami pulang kampung. Ada rasa rindu suasana itu. Begitulah berkeluarga, harus ada yang mengalah. Karena pertemuanku dengan orangtua bisa kapan saja, rumah kami dekat.
Mulai tahun ke 4, lebaran bersama keluarga suami, aku belum diberi kepercayaan oleh Allah untuk menjadi ibu.
Awalnya aku yang terbuka, ceria dan semangat supaya bisa akrab dengan keluarga suami, kini menjadi pribadi yang tertutup dan tidak percaya diri. Lebaran mulai tahun ke 4 ini memang tidak seindah diawal awal menjadi menantu. Perasaanku sangat sensitif. Sering sekali dijadikan candaan, diinterogasi, dijadikan bahan perbandingan. Aku merasa tidak berharga. Tak jarang aku stres, aku ingin menghindar dari acara pertemuan keluarga.
Alhamdulillah, setelah nyiyiran pasti juga berujung pada pemberian doa. Karena hal ini, aku berharap semoga Allah kabulkan doa mereka semua, meskipun mereka sudah jilid dan nyinyir terhadapku.
Lebaran tahun ke 6, Akupun berdoa :
Ya Allah, setelah lebaran ini, izinkan aku hamil dan punya anak. Aamiinkan doa mereka. Aku ingin merasakan menjadi ibu, dan membahagiakan mertua juga orangtuaku.
Perasaanku semakin sensitif, apalagi aku pernah operasi tumor rahim dan terapi, juga mengikuti program hamil, namun hasilnya gagal.
Lebaran ke 5 dan 6, aku mulai menghindar. Tidak lagi tahan lama-lama mudik di rumah mertua. Hanya nginap 2 malam, lalu pamit pulang. Jika suami tidak mau ikut, aku pulang sendiri. Yang penting, aku sudah menjenguk mertua di hari lebaran.
Lebaran tahun ke 7 dan 8 setelah menikah.
Aku masih belum hamil. Usiaku sudah hampir 35. Banyak artikel mengatakan bahwa usia setelah 35, sistem reproduksi wanita mengalami penuaan.
Entah aku harus beralasan apa, aku tidak mau berlebaran di rumah mertua.
Maha suci Allah yang selalu melindungi hambanya. Tahun ini ada virus Corona, Pemerintah melarang mudik lebaran. Aturan ini membuatku bahagia. Maaf, bukannya aku tidak berempati dengan kalian semua para perantau, yang memiliki tradisi mudik. Aku hanya merasa ini adalah lebaran yang paling kunantikan. Setelah sekian purnama, aku baru bisa berlebaran dirumah orang tua. Makan masakan mama yang lezat, meskipun bapak semakin kurus dan sepuh. Aku bahagia, aku teringat masa-masa kecilku yang dimanja oleh mereka.
Lebaran tahun ke 8
Keadaan masih sama. Masih ada Corona, pelarangan mudik dan aku yang belum hamil.
Kembali aku berlebaran dirumah orangtuaku. Namun tahun ini tanpa bapak. Bapak sudah berpulang ke Rahmatullah. Ini lebaran tahun pertama, yang cukup berat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih semoga menjadi pencerah