Arsip Blog

Senin, 04 Februari 2019

Hati hati menjaga hati




Rumah saya ada di perumahan Balines ya Neng.
Dari gerbang lurus sampe ketemu perapatan yang ke 2 baru belok kiri. Lurus aja sampe mentok neng. Blok H 23.
Setelah share lokasi nya dikirim, ia menelpon ku.

Oke Bu. Waalaikumsalam.

Langsung saja ku tancap gas motor ini, sesuai arahannya. Hari ini aku akan ketemu ibu Mayang, temen ku sewaktu kita mengaji tahsin bareng. Umurnya hampir 50an, anak pertamanya saja sudah lulus kuliah, katanya umurnya sudah 24th. Usia kami memang berbeda jauh. Cocoknya sih, aku panggil beliau Tante. Tapi di tempat pengajian kan lebih sopan kalo panggil ibu saja. Dan beliau memanggil ku dengan Neng Dias.

Sampai aku di Blok H no 23, aku tak langsung mematikan mesin motor. Ku amati dulu. Ada mobil Pajero sport Hitam dan Brilio warna merah. Sementara ragu, karena seinget aku beliau mobilnya Yaris warna putih. Aku mengamati dari depan halaman. Halaman yg cukup asri, ada kolam ikan Koi dan tamanan rambat yang indah. Didepan kolam, ada gajebo yang dilengkapi dengan bunga anggrek pada pojokan tiangnya.

Neng,.. kok ga masuk. Ayo silahkan.

Itu suara Bu Mayang, yang ternyata sudah menunggu dari tadi. Ayo, silahkan masuk. Anggap aja rumah sendiri neng, Suara ramahnya mencairkan rasa canggung ku.

Aku mengikutinya, katanya kita ngobrol di dalam aja lebih santai, sambil mencicipi masakan ibu. Hari ini ibu masak bakso, tempe mendoan, ikan asin dan ada risol isi ayam dengan saus mayones loh, kamu harus cobain semua. Mau minum apa neng? Panas apa dingin?

Dingin aja Bu, kebetulan cuacanya panas banget hari ini.

Aku sampai dirumahnya sekitar pukul 14:30, tapi sinar matahari masih terasa begitu menghangatkan tubuh. Niat ku berada disini adalah untuk mengantar kurma Ajwa pesanan beliau. Aku baru jualan kurma dan makanan cemilan sunnah food, sekitar 1 bulan terakhir. Bu Mayang beli, karena tertarik dari iklan status WA ku.

Kami membicarakan kegiatan masing-masing, setelah lulus dari LTQ. Beliau menjalankan visi misinya yaitu memberantas buta huruf Al-Qur'an. Alhamdulillah Allah mengabulkan niatnya, kini kegiatan nya dari senin sampai jumat, mengajarkan ibu2 komplek baca Alquran sesuai makhrijul huruf, sifat huruf dan tajwidnya. Santrinya sekitar 50an.

Lalu aku? Alhamdulillah aku sekarang menjadi guru Tahsin dan Tahfidz di sekolah dasar berbasis Islam Terpadu. Aku juga sempat menjadi pengajar di LTQ, tapi karena aku belum memiliki momongan, aku cuti dulu, biar kalo weekend aku bisa istirahat.

Hampir 7 bulan aku tidak lagi bekerja dikantor, yang meskipun memiliki jabatan sebagai Staff, tetep saja orang sekitar bilang aku hanya karyawan pabrik. Buruh atau pekerja. Qodarullah, Allah mengangkat derajat hamba nya dengan Alquran. Aku bukanlah S.Pd. Aku bisa diterima berkat sertifikat Utsmani yang aku memiliki saat belajar bareng Bu Mayang. Meskipun gaji nya sangat dibawah standar untuk tingkat orang kantoran. Tapi banyak orang respect dengan pekerjaan guru. Apalagi saat aku pakai seragam PGRI.

Azan berkumandang, pembicaraan kita berhenti sejenak. Bu Mayang tadi menanggapi, Insya Allah gaji neng berkah. Bisa sampai akhirat. Ilmu yang neng ajarkan semoga menjadi ilmu yg bermanfaat. Yang penting ikhlas.

Yang penting ikhlas, astaghfirullah...
Kadang kalau lagi cape, Aku mengeluh dan membandingkan pekerjaan ku yang sebelumnya. Aku merasa pekerjaan ini sangat menguras tenaga dan pikiran. Tidak ada jam istirahat selain menanggapi anak yang nangis, anak yg ngadu dipukul, atau jatuh dengan tiba2. Belum lagi bikin RPP, rapat, kegiatan² dan agenda kelas lainnya yg menguras waktu, tenaga dan pikiran. Lebih enak kerja dikantor. Duduk sambil dengerin musik, ruangan tenang, jika lembur diberi tunjangan dan gaji besar.

Astaghfirullah, aku belum menjadi orang yang ikhlas. Niat ku mengajar juga karena aku ingin belajar ilmu parenting sekaligus praktek, jika suatu saat nanti aku punya anak, aku tau cara menangani nya. Juga bekerja dengan halal tanpa manipulasi data.

Astaghfirullah, aku kembali beristighfar sekalian mengumandangkan doa setelah azan. Semoga Allah ampuni kesalahan ini.

Ku lihat beliau sedang menyiapkan tempat mukena untuk sholat ashar. Rumah ini asri dan bagus, beliau sudah jadi ustadzah di komplek ini. Anaknya sudah 4, dan sudah besar semua. Pagi sampai petang, hanya ditemani oleh anak bungsunya dan ART saja. Pergi kemana mana, bisa mengendarai mobil sendiri. Beliau orang kaya yg ramah, pintar dan ikhlas. Mungkin ini yg disebut sukses dunia akhirat. Hidupnya mirip jalan tol ya, tidak seperti aku. Yang hanya guru menyambi les privat dan jualan kurma motoris. Jika sampai dirumahku nanti, aku sendiri lagi tanpa adanya suara anak2. Sepi....

Sesudah sholat , aku berpamitan pulang. Ibu Mayang mengantarkan aku sampai teras rumahnya.

Neng, ini bungsu saya yang special, baru pulang dari mesjid. Ayo salam sama Bu guru.

Bungsu ibu tinggi ya, sudah kelas berapa? Aku bertanya kaku

5 eh 6, mama aku kelas berapa ya sekarang? Anak ini menjawab bingung.

Vian Kelas 6 Bu guru, .. ibunya bantu menjawab.

Wah pinter, ya sudah Bu guru pulang dulu ya Vian. Aku usap kepalanya, seusai itu aku pamit dan langsung ke acara selanjutnya yaitu privat calistung.

Hati hati menjaga hati, disepanjang perjalanan menuju pulang, aku sadari bahwa kehidupan aku adalah yang terbaik untuk diriku. Allah tidak akan menguji hambanya diluar kemampuan hambanya. Mungkin jika ujianku seperti Bu Mayang, belum tentu aku sanggup memiliki anak special.
Ya Allah, aku tidak akan membandingkan hidup orang lain. Ampunkan hati ini karena sempat iri pada hidup orang lain.

Januari 2019
Hati hati menjaga hati
Tri_Nh