Arsip Blog

Rabu, 21 September 2022

Mentalku Sudah Sehat

Sungguh capek dengan perasaan sendiri.
Bahagia dan kedamaian yang hadir dalam hidupku harus dengan sebab. Sedangkan marah dan sedih serta semua perasaan negatif, bisa datang tanpa alasan. Tidak adil.

Bahkan, saat lagi bahagia tak jarang rasa sedih, marah, iri, dengki itu menghampiri. 
Bodohnya, aku diam-diam memelihara perasaan itu. Aku menikmati kesedihan dan meratapi hal hal yang menyakitkan.

Pintarnya aku yang selalu ceria dihadapan orang lain. Seolah hidup ini indah dan baik-baik saja. Aku selalu nyambung saat bicara dengan banyak orang. Disamping pekerjaanku yang menggunakan kemampuan untuk banyak bicara. Seringnya, banyak orang yang curhat masalah pribadi mereka. Kisah temanku yang suaminya impoten, kisah temanku yang suaminya selingkuh, kisah temanku yang ribut terus sama orang tuanya, kisah temanku yang ekonominya ada dibawah garis kemiskinan, kisah temanku yang banyak hutang, dll

Aku suka mendengarkan orang lain bercerita tentang kesulitan-kesulitan hidup mereka. Bukan, bukan karena aku jahat. Bukan karena aku bahagia melihat mereka kesusahan. Melainkan agar aku merasa Allah masih lebih sayang kepadaku. Mentalku bisa jadi kuat dengan mendengarkan kesengsaraan orang lain. Sehingga pastinya rasa syukurku pada Allah akan bertambah.

Ya, kalian tidak salah baca. Allah. Aku adalah muslim yang Alhamdulillah tidak pernah ketinggalan sholat. Bahkan aku seorang guru pengajar Al-Qur'an. Aku selalu menguatkan orang yang bercerita dengan firmanNya. Sekaligus menasihati diri sendiri.

Itulah kehebatan iman dan Al-Qur'an. Selemah-lemahnya iman kita, jika masih berinteraksi dengan Allah, kita masih bisa hidup bersama cobaan. Meskipun kualitas hidup kita tidak terlalu bagus sebagai hamba Allah. Minimal kuat menjalani cobaan dan tidak bunuh diri.

*****

Mentalku sakit. Yang sangat sakit, adalah sejak 8 tahun usia pernikahan, dan 4 tahun lalu aku sudah melakukan operasi tumor rahim (miomektomi), 
Dihari itu, September 2021 aku ingin serius progam hamil. Usiaku saat itu 35 tahun.

Hasil screening dokter menganalisa bahwa miom di rahimku berjumlah banyak, cukup besar dan sudah saling menempel. Sayangnya sudah tidak bisa di operasi untuk ke 2 kalinya karena akan merusak rahim. Bahkan dokter bilang, khawatir dengan ginjal aku. Karena ukuran musik itu lumayan besar dan ada diatas ginjal. Rahimku sudah melebar sebanyak 6cm karenanya juga. 

*****

Sepanjang hari saat ada kesempatan, aku menangis. Dan seperti yang ku katakan di awal, aku menikmati dan meratapi nasibku.
Harapan ku tipis, tipis sekali.

Padahal aku sering bilang gini, ke teman-teman yang sedang sulit
-Allah tidak akan menguji hambanya di luar kemampuan nya
- Kun Fa Yakin, itu semua kan cuma prediksi manusia. Kalo Allah bilang "Jadi" pasti jadi kok. Kenapa harus takut sama prediksi manusia. Apa yang ga mungkin buat Allah.
- Doa aja, pasti dikabulkan loh. Kalaupun ga di kabulin di dunia, pasti nanti akan di kabulkan di akhirat.
- Berarti kamu mau naik kelas dikasih cobaan yang belum tentu orang mampu.

Dan masih banyak lagi kalimat penguatnya. Bicara itu gampang, teori itu mudah,  berbeda dengan praktek. Benar, aku hampa. 

*****

Ya Allah, aku harus bagaimana. Aku marah padamu, aku kecewa, aku sakit hati ya Allah...
Setiap,
Setiap bulan aku sakit menstruasi...
Sekedar pertanyaan kapan, itu biasa
Aku benci dibandingkan dengan orang lain yang baru menikah sudah punya anak.
Aku benci diintrogasi tentang ikhtiar ku punya anak, mereka seperti menyudutkan aku. Mba, sudah ibu, sudah itu, coba ini, coba itu. Mereka seolah so' tau
Aku takut perkumpulan keluarga atau tetangga, atau reoni. Aku hindari itu. Bahkan untuk menggendong bayi lucu, aku punya banyak pertimbangan. Gendong mba, semoga nular. Belajar mba biar bisa.
Atau candaan yang menjijikan, aduh jangan nular ke gw deh, gw mah ga bisa ke toel, langsung jadi.
Yang gilanya lagi, saat almarhum bapakku terbujur kaku, ada pelayat bilang "belum isi mba?"
Aku benci situasi itu.

*****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih semoga menjadi pencerah