Arsip Blog

Selasa, 09 November 2021

Tumor Rahim Mioma Uteri

11 September 2021

Pergi Check up, ikut promo USG transvaginal dan Kolposkopi. Jam 15:00

Dokter : Keluhannya apa aja?
Aku :
1. Menikah 8 tahun belum memiliki keturunan
2. Pernah operasi miom 4 tahun lalu
3. Setelah operasi, disuntikkan divalin 3x

Suster : masuk Bu, buka celananya ya. Rileks aja, duduk disini.
Aku : ikut perintah

Dan mulailah alat itu masuk. Sakit? Engga, cuma engga nyaman aja.
Dokter datang cek dilayar, wajahnya prihatin. Sambil periksa, interview berlanjut. Usianya berapa? Masih mau punya anak? 
Awalnya ringan saja pertanyaan.
Saat alat itu dikeluarkan, dokter bilang, miom aku puluhan. Sekitar 20 lebih. Ukurannya beragam. Ada yang besar sebanyak 8buah dan sudah saling menempel. Karena riwayat pernah operasi, maka tidak bisa di operasi lagi. Bisa merusak rahim

Suster : Sekarang cek Servik ya Bu
Alatnya masuk seperti besi. Dokter mulai meneropong bagian "dalam", Alhamdulillah Servik aku bagus.

Setelah selesai, dan sudah rapih semuanya. Kita pindah ke ruang konsultasi.

Dokter : ibu sudah lihat sendiri kondisi rahim ibu, miom nya banyak. Saling lengket dan rapat. Tidak bisa di operasi angkat miom lagi, kecuali angkat rahim. Hati² ginjal ibu bisa bengkak karena tekanan miomnya. 
Ibu masih mau punya anak? Ibu harus diet dan suntik divalin sebanyak 16x. Dan ini tidak ditanggung BPJS.  Ibu bisa pikirkan dulu.

Suster memberikan 2 lembar kertas untuk panduan diet dan pola hidup sehat.

Konsultasi selesai

****
Aku dan suami masih saling diam.
Suntik divalin itu obatnya saja 1,8 juta dan harus sebulan 2x

Suamiku bilang :
Siap asal kamu juga siap.
Kita hadapi bersama

****
Ya Allah
Dirahimku penuh miom.
Sehatkan rahim ini
Gantilah dengan calon Khalifah 


Jumat, 18 Juni 2021

Cadar Hitam dan celana congklang??

Pikiranku di tahun 2013
"Wanita yang  memakai Gamis serba Hitam  dan bercadar adalah golongan teroris. Di sampingnya pasti selalu ada lelaki bercelana congklang. Mungkin mereka adalah satu kelompok dengan Amrozi yang ada hubungannya dengan bom bali atau kelompok agama Islam yang sesat."
Saat suamiku melamarku, aku sempat ragu. Karena sebelumnya ia selalu menuntut agar aku memakai hijab, hijab yang lebar dan tertutup. Dan aku tidak pernah mau memakainya dengan berbagai alasan. Penampilan, Pekerjaan, Gerah dan lainnya. Sampai akhirnya dia mengakhiri hubungan pacaran dengan aku.  Pacaran haram, seharusnya kita langsung menikah saja, begitu katanya. Aku berkelit lagi, Menikah butuh proses, butuh perkenalan dan butuh uang. Sudahlah jangan sok suci, Anak pak haji saja masih pacaran, itu adalah pembelaan bodohku.
1 tahun berpacaran, aku diputusin tanpa salah
 Aku mengadukan percintaanku pada sahabat-sahabatku.
Mungkin dia terlibat dengan Islam  yang aneh sesat. Hati-hati dech sama cowo begitu.
Persis saat itu sedang musim bom dimana-mana. Umat Islam selalu jadi terdakwa, aku mengiyakan. Pantas saja dia mendadak menjadi sok alim. Pacarku pergi begitu saja tanpa kabar. Resmi aku menyandang gelar jomblowati.
*****
6 bulan berlalu senyap tanpa kabarnya. Tak ada lagi tawa ceriaku. Hanya ada tawa basa basi untuk menutupi kejenuhan. Aku merindukan kata-katanya, sms, telpon, jasa antar jemput, bau parfum, aku sangat merindukan dia.

Sayang, semua sudah diblokir, bbm, Facebook, no telp pun sudah berganti. Aku sungguh kehilangan jejak. Cara terbaik untuk mengobati rindu ini adalah membuat akun FB baru dan diam-diam menambahkan ke daftar pertemanan.

Aku membuka Foto di galerinya, lumayan bisa jadi obat pengusir kangen. Dan aku bergeser ke beranda miliknya :

“Berusaha sabar dan melewati hidup dengan optimis. Hanya Allah, karena Allah.. Allah lagi, Allah terus, Allah selamanya (YM)”
“Jadiah orang yang bermanfaat, ikhlas dalam bekerja dan selalu sabar.”
“Lelaki yang kuat adalah lelaki yang kuat mengangkat selimut dan berjalan menuju masjid di waktu subuh.”

Dan masih banyak lagi status bijak di FBnya. Status munafik, seolah menjadi orang yang paling bijaksana, tapi menyakiti hati wanita dan mengakhiri hubungan begitu saja. Benar jika ada pepatah yang bilang antara cinta dan benci memang beda tipis. Mungkin juga benar apa yang dipikirkan oleh sahabatku.

Sungguh perasaan yang sulit, ditambah lagi dengan dongeng indah tentang hidup sabahat-sahabatku. Tentang kehamilan, tentang pacar, tentang suami, tentang memulai membangun  rumah tangga dan tentang debay yang baru terlahir.  Menyesakkan, seharusnya juga aku sudah bercerita seperti mereka. Minimal bercerita tentang “dia”. Tidak ada yang bisa ku bahas selain menjadi pendengar setia dan senyuman yang ku paksakan.

26 umurku, Oh Tuhan, sudah menjelang akhir tahun dan aku??? Ah kisahku memang sangat kelabu, malah warnanya bisa dikatagorikan kelam. Saat teman masa kecilku, bahkan yang dulunya adik kelasku sudah menikah dan memiliki debay, aku malah jomblo. Sering copy darat minta kontak dari temen, beberapakali pernah mencoba menjalin hubungan dengan teman dunia Maya di dunia nyata,  tapi sungguh mencari pasangan ibarat mencari jarum di dalam jerami. SULIT.
*****
 “Wahai para wanita, bantu kami dalam menundukkan pandangan sesuai ayat AnNur ayat 31 Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung

Status FB punya dia.
X aku langsung klik menu tersebut. 10 bulan sejak berakhir, aku masih tak mampu untuk melupakannya. Kadang mata ini selalu berharap bisa membaca statusnya yang merindukan aku. Nihil, Bahkan tak satu pun fotoku yang masih tersimpan di FBnya, Tak ada seberkas sisa diriku dalam hidupnya lagi.

            Menahan pandangannya
            Menutup kain kudung ke dadanya
            Bertobatlan kalian kepada Allah

Bagai text berita yang ada di televisi, penggalan kalimat dari statusnya seperti berjalan di otakku. Ilmu apa yang sedang ia pelajari, benarkan itu perintah Allah, bukankah hijab hanya untuk wanita alim?
Akhirnya kuputuskan untuk searching ilmu agama, memang selama ini aku hanya pergunakan mbah google untuk chating, update status, dan copas untuk tugas mata kuliah.

Ternyata semua itu memang benar ada di dalam Al-Qur'an, yang hampir tidak pernah aku baca terjemahnya. Kemanakah arah hidupku? Masihkah menuduh dia seorang teroris? Atau mengikuti perkataannya yang memang tercantum dalam Alquran, perkataan dari kutipan surat cinta Allah yang tak pernah ku sentuh.

Ingin aku membuka Chat via FB dengannya. Dan mengakui bahwa yang bernama FB Ranum Fiani adalah aku. Niatku sederhana, Hanya ingin meminta maaf, tidak berani berharap lebih, karena aku sudah pasti bukan pilihannya, aku bukan tipe wanita yang tercantum dalam Al-Qur'an.

*****

2 bulan di awal tahun baru berjalan lambat untuk hidupku. Sebagian waktu istirahat di kantor, kupergunakan untuk menggali ilmu agama. Aku sudah berhenti jadi pendengar setia, Bosan dengan cerita yang itu-itu saja, Bosan yang dibagi tidak lebih dari tempat makan, baju, film atau tempat nongkrong. Aku sedang tidak tertarik terlibat dengan percakapan seperti itu. Sahabat-sahabat bilang aku berubah, tak pernah mau kumpul lagi.

Sekarang aku memang merasa asing dengan diri sendiri. Selalu ada perdebatan tentang hijab, pelarangan pacaran, dan lainnya. Aku juga sudah berhenti copy darat atau minta dikenalin sama teman atau mencari pacar di dunia maya. Mengenai dunia maya, tiga bulan terakhir ini  aku berhenti mengikuti statusnya. Niat sederhana untuk mengatakan maaf  yang selalu terlintas, masih belum sanggup aku katakan. Menikmati kesendirian ini, termasuk saat malam minggu, aku tidak lagi keluar untuk sekedar nongkrong dengan teman-teman. Memilih di rumah, tepatnya berada di dalam kamar untuk merenung.                                              
                        *****                                                                                        

September 2012
Aku terlahir kembali, setelah melalui perdebatan panjang dalam kesendirian. Aku memakainya, penutup kepala dan  penutup pakaian. JILBAB. Semua orang dikantor heran, dan terkejut. Ada sebagian yang mengucapkan selamat atas hijrahnya aku. Tetes air mata ini ikut jatuh saat menerima ucapan selamat yang diiringi doa  “Semoga istoqomah dan menjadi muslim yang lebih baik.”

Masih ingat kostum pertama berhijab, aku mengenakan ciput yang berkonde agar hijabku tersangga dengan baik. Rasanya tidak PD kalo hijab di kepala polos tanpa konde yang menyangganya. Aku nyaman dengan kostum seperti ini. Namun suatu waktu, tidak sengaja membaca postingan FB Milik Abu Hanifa, ia memang aktif menyebarkan dakwah di media sosial. Kebetulan pembahasannya mengenai hijab, jadi aku tertarik untuk membacanya :

“Para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian” (HR. Muslim no. 2128)

Itu Aku?
Benar sekali aku memakainya, karena hampir semua toko baju memasarkan ciput berkonde. Semua ciputku yang berkonde. Bismillah, sejak saat itu aku mulai mengulurkan hijab menutupi dada.

*****

Minggu depan Wisuda, di usiaku yang hampir 27 tahun. Terlambat memang untuk ukuran umur yang hanya Diploma 3. Aku mencoba toga yang baru saja ku ambil dari kampus.

“Tadi temen kamu si.. aduh siapa yach namanya, itu yang dulu nyuruh kamu pakai jilbab”
Serrr, Desir aliran darahku sangat nyata
“Tadi dia kesini, tapi mamah ga suruh masuk, cuma diluar aja. Dia Tanya kabar kamu, Terus minta nomor hp kamu?”
“Trus?” suara ini hampir tak keluar dari rongga mulutku, terasa tertahan.
“Ya ga mamah kasih, mamah bilang jangan ganggu anak saya lagi. Terus dia ninggalin nomor HP. Tapi mamah buang ke tempat sampah.”
“…..”
“Kamu hati2 ya sama dia, kelihatanya beneran sesat tuch anak. Lancang lagi pake tanya status.”
Aku hanya menggangguk, sambil menutup pintu kamar.

Berjam-jam mata ini terus terjaga, aku putuskan untuk menghadapNya, pasti akan memberikan kedamaian. Cukup satu hal yang aku keluhkan dan resahkan yaitu aku tidak pernah sanggup mengucapkan kata maaf. Padahal jelas sekali dalam hukum Allah bukankah Allah tidak akan memaafkan hambanya, kecuali hambanya meminta maaf dulu kepada sesamanya.
04.00 Pagi.

“Maafkan atas ketidaktahuan saya. 3Nh”
Ku kirimkan SMS singkat padanya. Semoga saja nomornya benar, karena sudah sangat lusuh. Setelah tahajud, aku mencari kertas itu di berbagai tempat sampah yang ada di dalam rumah.          

*****

Sepanjang bekerja hari ini aku selalu merasa tegang, was was, dan menunggu. Tidak kutinggalkan HP ku dalam radius yang jauh, benda itu selalu aku bawa kemana pun aku pergi, termasuk saat buang hajat di toilet, benda itu tak pernah jauh dariku hari ini.

Tepatnya sekitar 63 Jam berlalu dari SMS itu, perasaan ini masih sama, tidak berubah. GELISAH…. Teman kampusku juga gelisah, sama sepertiku, via Group FB mereka sibuk dan bingung membahas kebaya dan make up untuk wisuda yang tinggal 4 hari lagi.

Usai Makan malam, Orangtuaku biasa berbincang di teras rumah. Aku langsung masuk kamar, melakukan kebiasaan baru, membaca novel pembangun jiwa, Habiburahman El Shirazy, penulis novel bergenre Islami yang secara tidak langsung aku belajar banyak tentang Islam dari beliau.

#Maafkan bila ku tak sempurna, cinta ini tak mungkin ku cegah ….
Ku biarkan hp ku berdering, mendadak jari ini lemah untuk menggapainya
#Maafkan bila ku tak sempurna, cinta ini tak mungkin ku cegah ….
Lagi.Berdering dari nomor yang sama, nomor miliknya

“Asalamualaikum…”
“…salam.” suaraku menghilang hampir tak keluar, terjepit di kerongkongan.
“Apa kabar?”
“…..” Aku malah menganggukan kepala, seolah-olah dia ada di hadapanku, desiran aliran darah dan pompa jantung ini semakin kuat,.
“Aku juga minta maaf, sudah sok menggurui kamu.”
Alhamdullilah, akhirnya aku dimaafkan. Pasti Allah juga memaafkan perbuatan masa lalu aku. Air mata ini langsung meleleh. Terharu, seolah diri ini terbebas dari beban yang  dipikul.

Obrolan berlanjut mengenai perihal kedatangannya kerumah dua hari yang lalu. Awalnya saat Jumat sore, sewaktu melihat teman adiknya membuka laptop milikku. Destopnya berlatar fotoku yang sudah berhijab. Laptop itu memang sedang dipinjam oleh Ida untuk menyusun skripsi. Melihat aku yang sudah berubah, dia melakukan investigasi lebih melalui akun FBku. Nihil, aku tidak pernah posting photo dan update status lagi, yang dulunya sering mengshare makanan, Tiket nonton, foto jalan-jalan, keluh kesah sampai kalimat dengan kesan marah dan kasar, kini tidak ditemukan di akunku

Memang sejak berhijab, aku memilih menjadi silent reader. Dari akun FB asliku, dapat disimpulkan bahwa aku sudah berubah.

Telpon berdurasi kurang lebih 15 menit , diakhiri dengan sebuah pertanyaan yang membuatku  harus berpikir lebih keras.

*****
WISUDA…
Percaya dengan rahasia Allah?
Allah maha pemberi jalan keluar bagi hambaNya yang bersandar kepadaNya. Sabtu ini aku resmi di wisuda. Dan bonus tambahan yang Allah berikan adalah aku dilamar. Setelah berdebat panjang dengan keluarga, aku meyakinkan mereka bahwa dia bukan teroris, dia hanya berhijrah di jalan Allah tanpa pacaran, dan hanya ingin memiliki istri yang sudah berhijab, karena dimata Allah, suami juga yang menanggung dosa istri di akhirat nanti. Bukan hanya keluargaku saja, sahabat dan kerabat juga banyak yang bertanya mengenai keyakinanku. Propaganda hijab di akhir zaman cukup sukses menodai pola pikir umat Islam. Aku bersyukur bisa berubah menjadi muslim yang lebih baik lagi, muslim yang bermartabat dan menaati Allah dan Rosulnya.
Alhamdullilah, tiga bulan setelah wisuda atau lamaran, aku menikah dengannya setelah satu tahun lebih tanpa komunikasi. Kami memulai hubungan baru yang Allah halalkan.

Mengenai perjalanan hijabku, sedang dalam proses menuju kesempurnaan hijab. Juga ilmu Islam lainnya. 

HIJAB aku dan Mereka


2012, bertemu teman lama.
Pastinya menyenangkan. Apalagi di tempat dan waktu yang tidak terduga. Tiba-tiba dipertemukan Allah begitu saja.
Dalam satu bulan ini, aku bertemu dua teman lama. Baik teman sewaktu sekolah, maupun tempat kerja yang sebelumnya. Sekitar 7-10 tahunan tidak berjumpa. Aku yang menyapanya lebih dahulu. Aku panggil namanya dengan antusias dan riang. Tapi tidak langsung direspon, justru mereka berpikir sejenak sambil mengingat-ingat, siapa ukhti yang sudah sok akrab ini?

1.    Temen SMU.
Seorang perempuan, yang setiap hari selalu pakai hijab saat sekolah, sedangkan aku memakainya hanya seminggu sekali saat ada pelajaran AGAMA ISLAM dan itu pun hanya 2 jam, demi menyelamatkan nilai. Guru agama selalu mengancam, jika tidak menutup aurat maka nilai agama Islam mendapat angka 5. 
Kelas satu SMU pada tahun 2000, belum banyak siswa sekolah negri yang berhijab. 

Saat pelajaran usai, aku selalu berubah, melepas hijab. Sebenarnya bukan aku saja, banyak juga siswi yang mengganti pakaian usai pelajaran agama. Dikarenakan ruangan kelas tidak berAC dan tidak ada kipas angin. Semua angin murni dari pentilasi udara.

Kembali lagi pada teman yang ketemu di mall. Sungguh disayangkan, kini ia melepas hijabnya. Dikarenakan alasan pekerjaan yang tidak mengizinkan karyawannya menggunakan hijab. Padahal dulu, dia selalu meledek dengan kalimat "Jilbabnya Tri terbang". Saat ini bahkan dia nyaris tidak mengenalku, dikarena aku memakai gamis syar'i dan tubuhku lebih gemuk dari sebelumnya. Juga ditambah kacamata yang baru aku pakai saat bekerja. 12 tahun tak bersua, entah aku merasa ini pertemuan yang memilukan. Allah, aku ingin memiliki kedudukan di perusahaan, agar aku bisa mengajak temanku bekerja tanpa harus mengorbankan hijabnya.

2.   Temen kerja
      Usai lulus sekolah aku bekerja di Alfamart selama 5 tahun. Dari tahun 2004-2009.  Alhamdulillah perusahaan ini tidak melarang karyawannya memakai hijab. Justru saat bulan puasa, Kasir wajib memakai hijab.
      Customer setia bilang mbak kasirnya berubah, jadi Sholeha. Wah nambah cantik mba, pakai kerudung dan pujian lainnya.
      Namun sayangnya, suasana seperti itu tidak mampu merontokkan kerasnya hati ini. Aku masih belum mau konsisten berhijab. 
      
     "Tri, lanjutin saja. Sayang sudah sebulan pakai, terus sekarang dilepas. Tri, tambah anggun dan keliatan aura feminimnya"
      Saat itu demi menghargai pendapatnya, aku pura-pura berpikir mau memakai. Padahal secuil niat pun belum hadir dipikiranku. Ya Allah, sekeras apakah hatiku saat itu?

      Aku memakai karena aturan kerja, juga punishment. Jika tidak berhijab, maka akan di SP juga dipindahkan tempat kerjanya atau rolling. 

      Saat bertemu tahun 2012, lima tahunan kita tidak berjumpa, karena aku mendapatkan pekerjaan lain. Kali ini kami dipertemukan Allah saat sedang menunggu hujan reda. Samping kiriku ada 2 anak balita, satu bermain rintik hujan, satu digendong ibunya. Dan ibunya ternyata sahabatku sewaktu di Alfamart. Orang yang selalu memberikan motivasi dan  mengingatkan keutamaan berhijab. Kini wanita itu berdiri di sampingku tanpa penutup aurat. Bercelana panjang dan kaos pendek, rambutnya yang sebahu diikat asal. Letih sangat tampak pada wajahnya.
      Ia adalah seorang ibu rumah tangga, yang sangat kerepotan dengan dua anak balita juga 3 kantong kresek besar, berdiri letih di depan mini market untuk menunggu suaminya pulang. Katanya, buah hatinya tidak sabar untuk beli es cream, jadilah ia belanja bulanan tanpa suami. Selang beberapa menit, suaminya datang. Obrolan terhenti.

      Allah mengirimkan pesan, atas apa yang terjadi hari ini. Usiaku 26 tahun, masih lajang. Saat banyak sahabatku sudah menikah dan memiliki anak. Aku hanya ingin menikah dengan pria yang lebih Sholeh dariku. Agar urusan dunia yang melelahkan, tidak menggerus imanku. Tidak ada alasan kerepotan pakai hijab karena mengurus rumah tangga. Semua itu, ada dalam pendidikan keluarga, akidah dan tauhid yang kuat yang bisa didapat dari teman hidup yang Sholeh.

      Akupun baru 6 bulan memakai hijab. Awalnya saat ada majalah hijaber. 2010an trend hijab meningkat. Gaya dan model penutup kepala itu bermacam-macam. Itu semua ada dalam tutorial di majalah hijaber. Kami kaum hawa selalu ingin kelihatan modis dengan hijab. Aku dan teman-teman dikantor sering coba-coba model hijab yang lucu. Awalnya begitu niatku. Hanya coba-coba, hanya karena hijab lagi trending, artis-artis banyak yang yang memakai dan terlihat cantik tidak ketinggalan zaman.

Tak apa, mulailah kebaikan dengan berbagai cara. Nanti cara atau niat yang salah, akan tergerus oleh niat yang tulus. Perlahan aku belajar tentang makna hijab. Hakekatnya untuk melindungi dan menjaga kehormatan seorang wanita. Sungguh hijab adalah pakaian takwa yang tidak berlaku kata kuno saat memakainya. 

"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri istrimu, anak anak perempuanmu dan istri istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Al Ahzab: 59).
 

Aku merasakan ini dengan indah..
Tidak sesulit seperti yang aku bayangkan dulu. Dalam rintik hujan, air mataku menyatu. Allah kuatkan imanku, selalu. Sungguh sangat mengerikan melihat pelajaran yang Engkau kirim melalui sahabat lamaku.

Rabu, 19 Mei 2021

Lebaranku di semua masa. Kanak-Kanak, ABG, Dewasa, Pengantin baru, Berkeluarga

Lebaranku saat masa kanak-kanak
Artinya bebas tidak berpuasa lagi, punya baju baru dan dapet banyak amplop. 
Perasaanku sungguh sangat bahagia luar biasa bisa berkumpul dengan keluarga besar dan makan masakan mamah yang sangat lezat. 
Kegiatan lebaran yang paling sibuk adalah, menghitung uang THR dari mama, kakak, tamu bapak, tetangga dan banyak lagi.
Lalu sibuk membuat cash flow, mau buat apa saja uangnya.

Lebaranku saat ABG menjelang dewasa.
Sudah mulai berkurang yang memberi amplop. Bedanya setiap amplop nominalnya besar. 
Perasaanku sangat senang bisa libur lebaran, bisa jalan sama teman.
Kegiatan lebaran yang paling sibuk adalah, membantu mama bersih-bersih perabotan dapur. Dan berantem sama kakak karena sering disuruh-suruh.

Lebaranku saat dewasa dan masih single.
Dari sisi keuangan, jelas hampir tidak ada yang memberi. Tapi tak apa, justru kini saatnya berbagi pada orang tua, ponakan juga adik-adik. Kebiasaannya yang berbeda Cash Flow dibuat sebelum lebaran.
Untungnya setelah lulus sekolah, sudah bekerja. Tapi suasana saat kumpul keluarga atau kerabat dan tetangga, mulai terasa perbedaan strata sosialnya. Khususnya pertanyaan "kapan". Tidak apa, namanya juga jarang ketemu, mau bahas apa lagi buat bahan basa-basi. Namun dibalik pertanyaan "kapan" terselip banyak hal yang membandingkan nasibku dengan orang yang usianya sepantaran denganku.
Kegiatan lebaran yang paling sibuk, adalah bersih-bersih rumah dan dapur. Selebihnya nongkrong bareng temen, halal bihalal.

Lebaranku saat sudah menikah 1-3 tahun
Alhamdulillah punya keluarga baru dan suasana baru. Masih semangat-semangatnya PDKT dengan keluarga suami, terutama mertua. List jatah pembagian uang THR pun bertambah banyak. Waktu libur lebaran harus dibagi. Beberapa hari di Yogya tempat nenek, beberapa hari di rumah mertua, dan beberapa hari di rumah ortuku, juga sisakan waktu untuk lingkungan rumahku. Namun jatah libur terlama adalah berada dirumah mertua.

Lebaranku saat sudah menikah 4-6 tahun.
Mulai introspeksi diri, semoga tahun depan kita bisa bertemu Ramadhan dan Syawal. Mulai ada keluarga yang dirindukan tapi tak dapat bertemu selamanya.
Kedua orang tua sudah sepuh, aku hampir tidak pernah berlebaran bersama mama bapak dihari lebaran, karena mengikuti suami pulang kampung. Ada rasa rindu suasana itu. Begitulah berkeluarga, harus ada yang mengalah. Karena pertemuanku dengan orangtua bisa kapan saja, rumah kami dekat.
Mulai tahun ke 4, lebaran bersama keluarga suami, aku belum diberi kepercayaan oleh Allah untuk menjadi ibu.
Awalnya aku yang terbuka, ceria dan semangat supaya bisa akrab dengan keluarga suami, kini menjadi pribadi yang tertutup dan tidak percaya diri. Lebaran mulai tahun ke 4 ini memang tidak seindah diawal awal menjadi menantu. Perasaanku sangat sensitif. Sering sekali dijadikan candaan, diinterogasi, dijadikan bahan perbandingan. Aku merasa tidak berharga. Tak jarang aku stres, aku ingin menghindar dari acara pertemuan keluarga.
Alhamdulillah, setelah nyiyiran pasti juga berujung pada pemberian doa. Karena hal ini, aku berharap semoga Allah kabulkan doa mereka semua, meskipun mereka sudah jilid dan nyinyir terhadapku.
Lebaran tahun ke 6, Akupun berdoa :
Ya Allah, setelah lebaran ini, izinkan aku hamil dan punya anak. Aamiinkan doa mereka. Aku ingin merasakan menjadi ibu, dan membahagiakan mertua juga orangtuaku. 
Perasaanku semakin sensitif, apalagi aku pernah operasi tumor rahim dan terapi, juga mengikuti program hamil, namun hasilnya gagal.
Lebaran ke 5 dan 6, aku mulai menghindar. Tidak lagi tahan lama-lama mudik di rumah mertua. Hanya nginap 2 malam, lalu pamit pulang. Jika suami tidak mau ikut, aku pulang sendiri. Yang penting, aku sudah menjenguk mertua di hari lebaran.

Lebaran tahun ke 7 dan 8 setelah menikah.
Aku masih belum hamil. Usiaku sudah hampir 35. Banyak artikel mengatakan bahwa usia setelah 35, sistem reproduksi wanita mengalami penuaan. 
Entah aku harus beralasan apa, aku tidak mau berlebaran di rumah mertua. 
Maha suci Allah yang selalu melindungi hambanya. Tahun ini ada virus Corona, Pemerintah melarang mudik lebaran. Aturan ini membuatku bahagia. Maaf, bukannya aku tidak berempati dengan kalian semua para perantau, yang memiliki tradisi mudik. Aku hanya merasa ini adalah lebaran yang paling kunantikan. Setelah sekian purnama, aku baru bisa berlebaran dirumah orang tua. Makan masakan mama yang lezat, meskipun bapak semakin kurus dan sepuh. Aku bahagia, aku teringat masa-masa kecilku yang dimanja oleh mereka. 

Lebaran tahun ke 8
Keadaan masih sama. Masih ada Corona, pelarangan mudik dan aku yang belum hamil.
Kembali aku berlebaran dirumah orangtuaku. Namun tahun ini tanpa bapak. Bapak sudah berpulang ke Rahmatullah. Ini lebaran tahun pertama, yang cukup berat.